Kasus ISPA dan Pneumonia di DIY Meningkat, Dinkes Perkuat Kewaspadaan Dini
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Akhmad Akhadi, mengatakan bahwa peningkatan kasus ISPA mulai terlihat sejak pertengahan tahun
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat tren peningkatan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Pneumonia sepanjang tahun 2025.
Berdasarkan laporan mingguan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) hingga minggu ke-41, lonjakan kasus ISPA mencapai lebih dari 11.000 kasus, sementara Pneumonia menunjukkan kenaikan pada minggu-minggu terakhir periode pengamatan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Akhmad Akhadi, mengatakan bahwa peningkatan kasus ISPA mulai terlihat sejak pertengahan tahun.
“Kasus ISPA di DIY tahun 2025 menunjukkan tren peningkatan sejak minggu ke-25, dengan puncak lebih dari sebelas ribu kasus pada minggu ke-41. Kenaikan ini menandakan meningkatnya aktivitas penyakit respiratori sehingga perlu penguatan kewaspadaan, analisis rutin SKDR, dan edukasi pencegahan ISPA di masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pola kenaikan ISPA tersebut berkorelasi dengan peningkatan aktivitas masyarakat dan perubahan cuaca yang cenderung ekstrem sejak pertengahan tahun.
Karena itu, pemerintah daerah diminta memperkuat surveilans di puskesmas dan rumah sakit, terutama untuk mendeteksi klaster kasus pada anak-anak dan lansia.
“Kabupaten dan kota perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap tren peningkatan ISPA di puskesmas dan rumah sakit. Analisis mingguan SKDR harus dilakukan secara konsisten untuk mendeteksi pola klaster, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia,” kata Akhadi.
Ia juga menegaskan pentingnya komunikasi risiko kepada masyarakat mengenai etika batuk, penggunaan masker saat bergejala, serta pencegahan penularan di sekolah dan fasilitas umum.
Selain ISPA, tren penyakit serupa influenza (ILI) juga menunjukkan fluktuasi sepanjang minggu pertama hingga ke-41 tahun 2025.
Meskipun jumlah kasus ILI tahun ini lebih rendah dibandingkan 2023 dan 2024, data menunjukkan adanya lonjakan aktivitas virus respiratori pada pertengahan tahun dengan puncak sekitar 190 kasus pada minggu ke-35 sebelum menurun kembali.
“Total kasus Penyakit Serupa Influenza (ILI) di DIY pada minggu 1–41 tahun 2025 masih berada di bawah jumlah kasus tahun 2024 dan 2023. Namun demikian, pada tahun ini tercatat puncak peningkatan tertinggi sebesar 190 kasus pada minggu ke-35 sebelum kemudian menunjukkan penurunan bertahap hingga minggu ke-41. Pola ini mengindikasikan adanya lonjakan aktivitas virus respiratori pertengahan tahun yang relatif terkendali menjelang akhir periode pengamatan,” ujar Akhadi.
Sementara itu, kasus Pneumonia tahun 2025 juga menunjukkan kecenderungan serupa.
Meskipun masih dalam batas maksimum historis, tren kasus terus meningkat menjelang akhir periode pengamatan.
Menurut Akhadi, kondisi ini perlu diantisipasi melalui penguatan deteksi dini dan edukasi kesehatan masyarakat.
“Secara keseluruhan, kasus Pneumonia tahun 2025 masih berada dalam batas maksimum historis, namun menunjukkan tren kenaikan pada minggu-minggu terakhir. Kenaikan ini memerlukan penguatan kewaspadaan dini, surveilans klinis di fasilitas kesehatan, serta edukasi pencegahan melalui imunisasi, perilaku hidup bersih, dan deteksi dini pada kelompok rentan seperti balita dan lansia,” ujarnya.
Selain penyakit pernapasan, Dinas Kesehatan DIY juga mengingatkan pemerintah kabupaten dan kota untuk mewaspadai potensi penyakit lain, seperti Leptospirosis, terutama di wilayah dengan riwayat banjir dan genangan air. Dinas diminta meningkatkan surveilans kasus dan melakukan verifikasi cepat terhadap laporan suspek atau kematian dengan gejala klinis kompatibel seperti demam, ikterik, dan gagal ginjal.
Dengan meningkatnya berbagai penyakit menular selama 2025, Dinas Kesehatan DIY mendorong pemerintah daerah memperkuat koordinasi lintas program, termasuk bidang penyakit tidak menular (PTM), gizi, dan promosi kesehatan, untuk memitigasi faktor risiko lingkungan dan perilaku masyarakat. (*)
| Awal 2026, Dinkes DIY Temukan 57 Kasus Campak |
|
|---|
| Dinkes DIY Perketat Pengawasan Psikotropika, Tegaskan 'Kartu Kuning' Bukan Pengganti Resep |
|
|---|
| Dinkes DIY Pastikan Belum Ada Infeksi Virus Nipah, Ini Imbauan untuk Warga |
|
|---|
| Kabupaten Bantul Catatkan Angka Tertinggi Kasus Leptospirosis di DIY Sepanjang 2025 |
|
|---|
| Waspada ISPA dan Super Flu di Musim Pancaroba, Dinkes Kota Yogyakarta Ingatkan Disiplin PHBS |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-batuk-dan-sesak-napas.jpg)