Makan Bergizi Gratis

Bunyi Panci Warnai Aksi Kenduri Suara Ibu Indonesia di Bundaran UGM

Selama ini pemerintah melihat massifnya keracunan MBG, namun tidak memberi solusi apapun.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
(MG Axel Sabina Rachel Rambing)
Para peserta aksi "Kenduri Suara Ibu Indonesia" membunyikan panci sebagai bentuk protes MBG, di Bundaran UGM, (26/09/2025). 

TRIBUNJOGJA.COM -- Ratusan panci berdentang terdengar di sekitar Bundaran UGM, Sleman, Jumat (26/9/2025). Bunyi itu berasal dari aksi “Kenduri Suara Ibu Indonesia”. 

Gerakan ini menyuarakan keprihatinan para ibu atas kasus keracunan massal Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa pelajar di Bandung Barat serta sejumlah daerah lain di Indonesia.

Dalam aksi tersebut, para peserta yang didominasi kaum ibu ini duduk bersama sambil berorasi.

Mereka menyerukan desakan agar pemerintah mengevaluasi secara serius pelaksanaan program MBG.

Mereka menilai kasus keracunan massal yang ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) di Bandung Barat menjadi alarm buruk bagi distribusi dan kualitas makanan program tersebut.

Situasi ini, kata mereka, juga berpotensi terjadi di berbagai wilayah lain di Indonesia.

Peserta Aksi Menunjukan Poster
Kalis (30), salah seorang peserta aksi, menunjukan poster kepada awak media di sekitar lokasi aksi, Bundaran UGM, (26/09/2025).

Kalis (30), salah satu peserta aksi menyuarakan keresahannya lewat gerakan ini.

“Saya juga seorang Ibu, saya kasihan melihat banyaknya korban, saya tidak mau anak saya turut menjadi korban,” tegasnya (26/09/2025).

Sekitar 10 orator menyampaikan orasi dalam aksi tersebut, dengan tuntutan yang sama meski dari sudut pandang berbeda.

Aksi ini juga diikuti peserta dari luar DIY, antara lain dari Klaten dan Magelang.

“Saya seorang petani, hasil panen saya selalu baik dan didistribusikan dengan baik, tapi mengapa setelah diolah justru menjadi racun,” ucap salah satu orator yang merupakan Petani dari Magelang (26/09/2025).

Peserta Aksi Bersuara Lewat Arts Performance
Laksmi, salah satu peserta aksi menunjukan arts performance sebagai bentuk protes terhadap Program MBG, (26/09/2025).

Laksmi, salah seorang peserta menampilkan arts performance dilengkapi properti yang Ia buat sendiri.

“Mata (tempelan properti) ini melambangkan kebutaan pemerintah,” ucap wanita tersebut (26/09/2025).

Ia menyatakan bahwa selama ini pemerintah melihat massifnya keracunan MBG, namun tidak memberi solusi apapun.

"Kami sehari-hari memastikan generasi tumbuh dan berkembang dengan sehat dan bahagia. Tapi ancaman malah datang dari negara yang memaksakan program bermasalah terus berjalan," ucap salah satu orator aksi, (26/09/2025).

Melalui aksi ini para peserta menyepakati lima tuntutan, yaitu penghentian segera Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap sentralistik dan militeristik, mengingat ribuan anak telah menjadi korban keracunan massal. 

Para ibu mendesak pertanggungjawaban penuh dari level tertinggi, termasuk Presiden, Badan Gizi Nasional (BGN), Satgas Pangan, dan pihak penyelenggara dapur yang terlibat dalam insiden keracunan dari Januari hingga September 2025. 

Tuntutan ini berfokus pada keselamatan anak dan menyuarakan bahwa program yang dibiayai negara justru menimbulkan bahaya.

Selain itu, para pengunjuk rasa meminta BGN untuk segera membentuk tim pencari fakta independen guna menjamin transparansi pengungkapan kasus, serta menyediakan hak pemulihan yang layak bagi semua korban keracunan. 

Mereka juga mendesak Pemerintah untuk melakukan pengusutan tuntas praktik korupsi dan aktivitas "pemburu rente" yang mengambil keuntungan dari program ini. 

Sebagai solusi jangka panjang, mereka menuntut pengembalian peran pemenuhan gizi anak kepada otoritas lokal, yaitu komunitas dan daerah, sebagai langkah untuk menciptakan sistem gizi yang lebih aman dan terdesentralisasi.

Terakhir, acara ditutup dengan membunyikan bersama panci dan pembacaan ulang rangkuman tuntutan. Selanjutnya massa mulai membubarkan diri secara teratur. (MG|AXEL SABINA RACHEL RAMBING)

Baca juga: Kepala Disdik Gunungkidul Menolak Keras Surat Perjanjian SPPG-Sekolah Rahasiakan Keracunan MBG

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved