JIBB 2025, Wujud Komitmen Jogja Menjaga Gelar Kota Batik Dunia
Gelaran Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2025 menjadi wujud nyata komitmen melestarikan batik
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM - Di tengah derasnya arus modernisasi, Yogyakarta berupaya menjaga napas tradisi. Gelaran Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2025 menjadi wujud nyata komitmen melestarikan batik sekaligus mempertahankan predikat Kota Batik Dunia.
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY menggelar JIBB 2025 mulai 16 September hingga 5 Oktober.
Ajang dua tahunan ini menampilkan batik tidak sekadar sebagai karya seni, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya dan sumber kesejahteraan masyarakat.
Kepala Subbidang Perencanaan Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan DIY, Eri Nurhayati, menegaskan bahwa penyelenggaraan JIBB kali ini diarahkan untuk lebih dari sekadar pameran.
“Memastikan JIBB tak hanya sekadar pameran biasa, namun menjadi ajang pelestarian budaya yakni baik sebagai warisan budaya yang diakui UNESCO,” ujar Eri dalam diskusi Rembag Kaistimewan, Kamis (25/9).
Menurut Eri, JIBB 2025 melibatkan kerja sama dengan dinas-dinas terkait, sekolah, kampus, dan komunitas.
Tahun ini, anggaran yang dialokasikan untuk JIBB sekitar Rp 490 juta, turun dari tahun sebelumnya karena efisiensi. Meski begitu, tujuan utama tidak berubah, yakni memberi manfaat luas bagi masyarakat.
“Seperti acara-acara yang didanai dari Dana Keistimewaan (Danais) lainnya, JIBB ditargetkan bisa memberikan kesejahteraan kepada masyarakat luas. Misalnya pelaku UMKM khususnya batik dapat ikut terlibat sehingga meningkatkan produksi maupun penjualan. JIBB juga diharapkan mampu meningkatkan kunjungan pariwisata ke DIY mengingat acara tersebut berskala internasional,” jelasnya.
Sejak ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia oleh World Crafts Council (WCC) pada 2014, Pemda DIY berkomitmen menggelar JIBB setiap dua tahun. Sekretaris Umum Dekranasda DIY, Ronni M Guritno, menyebut penyelenggaraan tahun ini merupakan kali kelima.
“Tahun ini penyelenggaraan yang ke lima. Jadi usia Jogja Kota Batik Dunia ini sudah berlangsung 11 tahun,” ujarnya.
Ronni menilai perkembangan batik di Yogyakarta berjalan positif. Dukungan Pemda dan minat masyarakat membuat perajin semakin kreatif. Menurutnya, kemajuan teknologi produksi bukanlah ancaman, melainkan peluang.
“Saat ini seiring perkembangan zaman para produsen lebih mudah untuk memproduksi, memasarkan produk batik mereka. Banyak produksi batik menggunakan mesin atau alat canggih, namun batik *home made* yang dibuat dengan torehan tangan akan bernilai lebih tinggi,” jelasnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati, menambahkan, JIBB 2025 melibatkan sekolah dan kampus untuk pertama kalinya. Selain itu, sejumlah program baru turut hadir, termasuk Grand Launching Griya Batik sebagai tempat belajar dan pameran permanen, serta Sebatik atau bersepeda sambil mengenakan pakaian batik.
“Lima sekolah dan tiga kampus untuk kami sosialisasi JIBB dan Jogja Kota Batik Dunia. Ini untuk mempertahankan Jogja sebagai kota batik dunia, masyarakat dan pelajar,” ujar Yuna.
Ia merinci, kegiatan JIBB Goes to School dan Goes to Campus melibatkan 300 siswa dan 200 mahasiswa, termasuk 10 persen mahasiswa asing. Sekitar 80 siswa, mahasiswa, dan dosen turut tampil sebagai model peragaan busana.
| Warga Yogyakarta Apresiasi Kelonggaran Pajak Kendaraan Tanpa KTP, Minta Diperpanjang |
|
|---|
| Warga Jogja Senang Urus Pajak Kendaraan Tanpa KTP Asli Pemilik: Tidak Perlu Pakai Calo Lagi |
|
|---|
| Terduga Pencuri Gamelan Sudah Dua Kali Beraksi di Jogja, Kini Berakhir di Jeruji Penjara |
|
|---|
| Aktivitas Gunung Merapi Pagi Ini Kamis 16 April 2026: Teramati Ada 9 Kali Guguran Lava |
|
|---|
| Persiapan Hotel Sebagai Asrama Haji DIY di Kulon Progo: 1 Kamar Diisi 3 Jemaah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/JIBB-2025-Wujud-Komitmen-Jogja-Menjaga-Gelar-Kota-Batik-Dunia.jpg)