GIPI DIY Minta Masyarakat Jaga Kondusifitas Agar Tak Berdampak ke Pariwisata

GIPI DIY minta masyarakat menjaga kondusifitas agar tidak berdampak pada industri pariwisata. 

Tribun Jogja/Bramaso Adhy
JOGJA MEMANGGIL : Ribuan mahasiswa dan elemen sipil menggelar aksi unjukrasan di Bundaran UGM Yogyakarta, Senin (1/9/2025). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY minta masyarakat menjaga kondusifitas agar tidak berdampak pada industri pariwisata. 

Ketua GIPI DIY, Bobby Ardyanto Setyo Ajie mengatakan ia mengapresiasi masyarakat yang menyampaikan aspirasi melalui aksi demonstrasi. Namun penyampaian aspirasi dengan cara yang positif. 

Ia menyebut pada September 2025, gelombang wisatawan mancanegara (wisman) asal Eropa masih berpotensi masuk ke wilayah DIY.

Namun kericuhan saat demonstrasi yang terjadi DIY dan daerah lain membuat wisman mengalihkan perjalannya. 

“Ini reminder untuk Indonesia ke depan. Mari jaga kondusifitas, karena ini bisa membawa pengaruh negatif buat industri pariwisata,” katanya, Senin (01/09/2025). 

“Masih banyak wisman dari Eropa, dari Italia, Perancis, Spanyol, Jerman, Belanda, masih banyak. Harapannya bisa masuk ke DIY, tetapi kami melihat untuk yang berdatangan pada 2 September 2025 ini mengalihkan perjalanannya. Karena mereka selalu update kondisi Indonesia day by day,” sambungnya. 

Baca juga: Wali Kota Yogya Tinjau 9 Titik Rawan Demonstrasi, Berikan Jaminan Keamanan untuk Warga

Ia menerangkan keamanan menjadi isu sensitif bagi industri pariwisata.

Wisatawan akan berpikir ulang untuk berwisata jika tidak ada jaminan keselamatan. Akhirnya wisman pun mengalihkan perjalanan ke negara lain di Asia. 

Safety itu nomor satu, tentunya menjadi kekhawatiran mereka situasi yang uncontrol. Jadi jangan sampai ini menjadi kerugian kita bersama. Semoga semuanya bisa kondusif,” terangnya. 

Bobby juga mengingatkan industri pariwisata memiliki multiplier efek yang sangat besar dan sebagai penggerak ekonomi di DIY. Untuk itu, citra pariwisata harus tetap terjaga positif. 

“Ketika pariwisata mati, seperti saat COVID-19 kemarin. Sehingga perlu langkah preventif,” pungkasnya. (maw) 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved