Kasus Raya Meninggal karena Cacingan, Kenali Gejala dan Pencegahannya!

Jangan anggap remeh cacingan. Kenali bagaimana cacing menular, gejalanya, dan cara sederhana mencegahnya agar anak tetap sehat.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Instagram/@rumah_teduh_sahabat_iin
Raya, bocah 4 tahun yang meninggal karena infeksi cacing (Instagram/@rumah_teduh_sahabat_iin) 

TRIBUNJOGJA.COM- Kasus meninggalnya Raya, bocah 4 tahun dari Sukabumi, Jawa Barat, baru-baru ini menyita perhatian publik. 

Raya meninggal dunia setelah mengalami infeksi cacing gelang (Ascaris lumbricoides) yang sangat parah hingga menyebar dan bersarang di paru-paru dan otaknya.

Kondisi Raya yang buruk ini diakibatkan karena ia tumbuh di lingkungan yang memprihatinkan, hingga menjelang detik-detik terkahir hidupnya. 

Ditemukan cacing yang keluar dari hidung dan feses bahkan berjumlah lebih dari 1 kg sebelum akhirnya meninggal.

Tragedi ini menjadi pengingat pahit, bahwa cacingan masih menjadi masalah kesehatan berbahaya bagi masyarakat di Indonesia.

Terutama di daerah dengan sanitasi yang belum memadai juga minimnya pengetahuan pentingnya penerapan Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS).

Kasus Raya menunjukkan bahwa cacingan bukanlah penyakit ringan, melainkan bisa berujung pada komplikasi serius bahkan kematian jika tidak ditangani.

Bagaimana Cacing Menularkan Infeksi pada Manusia?

Infeksi cacing pada manusia umumnya ditularkan melalui tanah, atau dikenal dengan istilah Soil Transmitted Helminths (STH).

Terdapat tiga jenis cacing yang paling sering menginfeksi anak-anak, yaitu cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichiuris trichiura), dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale)

Cara penularannya bervariasi, namun sama-sama erat kaitannya dengan lingkungan yang tidak bersih. Berikut adalah jalur penularan yang paling umum:

  • Melalui Tanah. Telur cacing yang ada di tanah dan tidak sengaja terpegang oleh anak. Dapat masuk ke tubuh saat anak bermain ketika anak menyentuh makanan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
  • Makanan dan Sayuran. Sayuran atau buah yang tidak dicuci atau dimasak dengan baik juga dapat membawa telur cacing yang menempel.
  • Larva Cacing. Larva cacing terutama cacing tambang dapat langsung menembus kulit, biasanya ketika seseorang berjalan tanpa alas kaki di tanah yang terkontaminasi.
  • Perantara Lalat. Lalat yang hinggap di tanah atau kotoran dapat membawa telur cacing ke makanan, dan ketika makanan tersebut sudah dihinggapi lalat dan dikonsumsi oleh manusia maka penularan tersebut akan terjadi.
  • Selain itu, terlu cacing juga dapat menempel di kuku, mainan, pakaian, hingga sprei.

Baca juga: Cara Mudah Menerapkan Perilaku Hidup Sehat untuk Hidup Berkualitas

Gejala Cacingan yang Harus Diwaspadai

Cacingan sering kali tidak menimbulkan gejala jelas di awal.

Namun, jika tidak segera ditangani, infeksi bisa semakin parah.

Beberapa tanda yang umum terjadi antara lain:

  • Perut buncit atau terasa nyeri.
  • Nafsu makan menurun atau justru meningkat, tetapi tubuh tetap kurus.
  • Mudah lelah, lesu, dan sering merasa sakit.
  • Anemia atau kekurangan darah (terutama pada infeksi cacing tambang).
  • Mual, diare, atau gangguan pencernaan lainnya.
  • Gatal di sekitar anus, terutama pada malam hari (indikasi cacing kremi).
  • Pada kasus yang sudah sangat parah, cacing dapat keluar bersama tinja atau bahkan melalui hidung.
  • Infeksi yang kronis dapat menyebabkan kekurangan gizi, gangguan pertumbuhan, penurunan kecerdasan, hingga kerusakan organ vital sebagaimana terjadi pada kasus Raya.
Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved