Kembali Muncul, Penyakit Mulut dan Kuku Sebabkan Tiga Sapi di Sleman Mati
Sepanjang tahun 2024, dilaporkan ada tiga ekor sapi mati akibat penyakit hewan yang sangat menular ini.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali ditemukan menyerang hewan ternak di wilayah Kabupaten Sleman.
Sepanjang tahun 2024, dilaporkan ada tiga ekor sapi mati akibat penyakit hewan yang sangat menular ini.
Pemerintah setempat melakukan pencegahan penyakit ini dengan vaksinasi dan pengujian sampel ternak.
Plt Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Ir. Suparmono mengatakan sepanjang Januari hingga Desember 2024, berdasarkan data Isikhnas kasus PMK yang menyerang ternak di Sleman ditemukan 317 kasus dari 97.020 ekor populasi ternak di Sleman yang rawan terpapar. Adapun rinciannya, 282 kasus aktif dan 32 ekor ternak sembuh.
"Yang mati sebanyak 3 ekor. Semuanya sapi," kata Suparmono, Selasa (31/12/2024).
Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, kata dia, telah melakukan tindakan pengendalian berupa peningkatan surveilans, investigasi, pengambilan sampel dan pengujian untuk mengidentifikasi sumber penularan, faktor risiko dan epidemiologi penyakit maupun penyebab kematian ternak bekerjasama dengan BBVet Wates.
Petugas di lapangan juga telah meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi kepada para peternak untuk meningkatkan biosecurity pada kandang-kandang ternak.
Apabila ditemukan hewan sakit, maka peternak diminta segera melaporkan dan kandang ditutup sementara.
Baca juga: 14 LOKASI Outdoor Rayakan Tahun Baru 2025 di Jogja Sleman Gunungkidul Bantul, Full Pesta Kembang Api
Edukasi PMK juga dilakukan terhadap para pedagang ternak di pasar hewan.
Adapun soal vaksinasi, DP3 Kabupaten Sleman telah mulai melakukan kegiatan vaksinasi ternak sejak tahun 2022 lalu sebanyak 37.145 dosis.
Berlanjut tahun 2023 sejumlah 39.445 dosis, dan di tahun 2024 ada 19.187 dosis yang disuntikkan pada sapi, kambing, domba dan kerbau.
Kemudian ada 250 dosis vaksin yang disuntikkan pada 29-31 Desember 2024 yang dilakukan Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI) DIY yang mendapatkan bantuan vaksin PMK dari Kementerian Pertanian.
Pascaimunisasi, untuk mengetahui efektifitas terbentuknya antibodi ternak terhadap serangan PMK juga dilakukan melalui kegiatan surveilans oleh BBvet Wates. Caranya dengan mengambil sampel pada 18 hari setelah ternak disuntik vaksin.
"Ada 60 sampel yang telah diambil dengan capaian 83,3 persen. Artinya bahwa vaksinasi PMK yang dilakukan terbukti efektif dalam pembentukan antibodi terhadap PMK," ujar Suparmono.
Mantan Panewu Cangkringan ini juga mengungkapkan, tindakan pengendalian PMK lainnya dilakukan pemerintah melalui penegakan diagnosa laboratorium PMK yang dilaksanakan di Bbvet Wates.
Kegiatan ini dilakukan terhadap sampel dari ternak yang menunjukkan gejala klinis dan ternak yang akan dilalulintaskan antar provinsi.(*)
| PSS Sleman Siap Hadapi Laga Krusial Kontra Barito Putera, Penentu Perburuan Tiket Promosi |
|
|---|
| Sekolah Terdampak Tol Jogja–Solo, SD Nglarang Pindah ke Lahan Baru Seluas 4.800 m² |
|
|---|
| Warga Sleman Lega, Pemerintah Beri Kepastian Harga BBM Subsidi Tidak Naik hingga Akhir 2026 |
|
|---|
| SDN Nglarang Sleman Bakal Direlokasi Karena Terdampak Proyek Tol, Lahan Pengganti Mulai Disiapkan |
|
|---|
| Terimbas Proyek Jalan Tol, Gedung SDN Nglarang Sleman Mulai Dibongkar 24 April 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ir-Suparmono-bersama-Satgas-antisipasi-penularan-penyakit-mulut.jpg)