Cerita Pedagang Bendera Asal Garut Buka Lapak di Kabupaten Klaten

(HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia keberadaan  pedagang bendera merah putih musiman mulai bermunculan

|
Penulis: Dewi Rukmini | Editor: Iwan Al Khasni
Tribunjogja.com/Dewi Rukmini
PEDAGANG BENDERA: Pedagang bendera musiman mulai bermunculan di Kabupaten Klaten menjelang perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan RI, Rabu (30/7/2025). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Dewi Rukmini


TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Jelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia keberadaan  pedagang bendera merah putih musiman mulai bermunculan.


Di Kabupaten Klaten, para penjual mulai menggelar dagangan di sejumlah sudut jalanan.

Salah satunya berada di Jalan Kopral Sayom, Kecamatan Klaten Utara, dan Jalan Prenjak, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. 


Seorang pedagang bendera musiman, Yayan (62), mengaku selama tiga tahun terakhir selalu berjualan bendera musiman di Kabupaten Klaten jelang perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan RI.

Dia mengaku berasal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat, dan datang ke Kota Bersinar bersama rombongan sebanyak 24 orang pedagang bendera musiman. 


"Saya jual banyak jenis, ada bandir, umbul-umbul, background, bendera merah putih, dan bendera kecil-kecil buat di mobil. Harganya standar mulai Rp10 ribu sampai paling mahal Rp250 ribu untuk background," ungkapnya kepada Tribun Jogja, Rabu (30/7/2025). 


Ukuran bendera merah putih yang ia jual beragam, ada yang berukuran kecil untuk dipasang di mobil atau sepeda motor, ukuran 1,2 meter, 1,5 meter, serta 90 sentimeter (cm).

Harga setiap bendera berbeda-beda sesuai ukuran. "Setiap hari saya bawa tiga kodi bendera untuk cadangan persediaan, karena takut ada yang borong, jadi tidak perlu ambil dulu di rumah," katanya. 


Menurutnya, penjualan bendera saat ini masih standar. Rata-rata perhari dia bisa menjual sekitar 10 potong bendera.

Namun daganganya paling ramai, Yayan bisa mengantongi Rp400 ribu dalam sehari. 


"Pendapatan paling besar itu di hari Minggu. Ya kadang-kadang rezeki kan tidak tahu. Kalau sekarang masih standar (belum ramai), mungkin karena banyak yang masih punya bendera simpanan tahun lalu. Tapi biasanya mendekati 17 Agustus semakin ramai," ujarnya. 


Lebih lanjut, Yayan mengungkapkan jika tidak menjadi pedagang bendera musiman.

Dia bekerja sebagai petani di kampung halamannya. 


"Ini kan musiman, jadi untuk cari rezeki lebih," tambahnya. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved