Dosen Sebagai Aktor Peradapan

PROFESI dosen salah satu tantangan terbesarnya saat ini adalah peningkatan kualitas dan kewenangan akademik yang diindikasikan dengan jabatan akademik

Tayang:
Editor: Hari Susmayanti
Dok Amikom Yogyakarta
Dr.Junaidi,S.Ag.,M.Hum.,M.Kom Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom 

Oleh

Dr.Junaidi,S.Ag.,M.Hum.,M.Kom
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom


PROFESI dosen salah satu tantangan terbesarnya saat ini adalah peningkatan kualitas dan kewenangan akademik yang diindikasikan dengan jabatan akademik. 


Misalnya, proporsi dosen dengan jabatan lektor kepala dan guru besar masih sangat perlu ditingkatkan di Indonesia. 


Status dosen seharusnya tidak lagi sebatas profesi, tetapi sebagai komitmen dan tugas peradaban. 


Memang untuk sebagian orang, ungkapan ini terkesan utopis. 


Namun kita harus ingat, itulah tugas sejarah universitas sejak dilahirkan. 


Tugas universitas adalah mengembangkan pengetahuan melalui riset, menyebarkan pengetahuan melalui pengajaran dan publikasi dan mengaplikasikan pengetahuan melalui layanan publik.


Jika kita berpikir jernih, peningkatan jabatan akademik ini bukanlah tujuan, tetapi dampak karena dosen mengerjakan pekerjaan-rumahnya dengan baik.


Pekerjaan rumah tersebut mewujud dalam bentuk pengajaran, riset, pengabdian kepada masyarakat. 


Bagaimana menjelaskan ketika integritas akademik mulai terkikis. Sistem yang berkembang di Indonesia dan bisa jadi kita mengamini telah menggerus integritas akademik.


Sistem yang berjalan jika dangkal dimaknai akan menghasilkan career-minded scholars dan bukan science-minded scholars.


Dosen yang masuk ke dalam mazhab (science-minded scholars) lebih mengedepankan kualitas publikasi.


Setiap publikasinya mengandung kontribusi yang jelas.


Dosen seperti ini melakukan riset dan publikasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan. 

Baca juga: Career Fair 2025 Kolaborasi AMIKOM dan Disnaker Sleman Resmi Dibuka, Hadirkan Ratusan Lowongan Kerja


Di sana ada nilai abadi yang tidak mudah lekang. Kalaupun publikasi diindeks atau mendapatkan insentif, itu hanya efek samping karena menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik.


Para filsuf dan cendekiawan besar yang masih berpengaruh, seperti filsuf Al-Khindi, Al-Biruni, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Imam Alghazali, mereka tentu masuk ke dalam mazhab kedua ini. 


Di Indonesia, kita bisa sebut, misalnya, cendekiawan Islam Kuntowijoyo, Nurcholis Madjid, Azyumardi Azra, Syafii Maarif dan  Amin Abdullah. 


Nama mereka dicatat dalam sejarah dengan warna emas. 


Jika saja mereka masuk ke dalam mazhab careerminded scholars, yaitu cenderung menyukai cacah publikasi, misalnya, dan tidak terlalu peduli dengan kualitas. 


Riset yang mereka lakukan bukan ditujukan untuk pengembangan ilmu, tetapi semata kenaikan karir saya yakin, waktu akan dengan mudah melupakan mereka atau sejarah mencatat namanya dengan warna lain.


Secara personal, saya memimpikan semakin banyak dosen yang masuk ke dalam konteks kedua ini. 


Kadang pemimpin harus melakukan ijtihad organisasional, yang tidak selalu membahagiakan semua pihak. 


Jika ini yang terjadi, saya mempunyai satu rumus.


Apapun yang akan kita putuskan, pastikan terbebas dari kepentingan personal. 


Sepandai-pandainya kita menyembunyikan kepentingan personal yang dapat dikemas dengan beragam argumen, waktu akan mengujinya. 


Tidak jarang, pada saatnya, kepentingan personal, jika benar adanya, akan semakin kentara dengan waktu.


Kurikulum dan proses pembelajaran harus didesain dosen supaya mahasiswa mampu berkembang menjadi pembelajar cepat. 


Mereka harus dilatih mengembangkan kemampuan menghubungkan antar titik, antar konsep, untuk membangun jalinan cerita yang bermakna dari materi yang didiskusikan di kelas.


Peran dosen termasuk mahasiswa juga harus diajak mengasah diri untuk mengenali pola solusi dari beragam kelas masalah. 


Di masa mendatang, mereka harus berkembang menjadi pengambil keputusan yang cekatan dan tangguh. 


Kurikulum juga harus meningkatkan literasi dan keterampilan teknologi mahasiswa. 

Masa depan tidak menyisakan ruang untuk mereka yang gagap teknologi.


Suka atau tidak suka, teknologi akan semakin dominan di masa mendatang dan kita harus siap menyambutnya.


Tidak kalah penting, dosen harus sanggup memberi contoh dan mendampingi mahasiswa menjadi pemikir mandiri. 


Mereka tidak boleh dibiarkan hanya menjadi pembeo dan bertaklid buta kepada narasi publik.


Perguruan tinggi yang memiliki tenaga-tenaga dosen yang berkualitas akan banyak diminati oleh masyarakat. 


Karena itu, program untuk meningkatkan kualitas para dosen adalah merupakan kewajiban yang tidak ditawar lagi pada saat ini dan di masa mendatang. 


Perguruan tinggi yang tidak mau mengikuti arusnya perkembangan perubahan sekarang dan di masa datang akan ditinggalkan oleh masyarakat dan lambat atau cepat akan mengalami kemunduran, yang akhirnya akan mengalami keruntuhan.


Tanpa ada upaya untuk meningkatkan kualitas dosen yang ada sekarang, perubahan-perubahan mendasar pada kurikulum dan metode belajar mengajar akan timpang dan bisa jadi kurang efektif peningkatan kualitas dosen perlu dimulai dari sistem perekrut, peningkatan kemampuan dosen, sistem penilaian terhadap kemampuan dan kinerja dosen, serta sistem peningkatan karirnya. 


Tentu saja upaya peningkatan kualitas dosen perlu disertai dengan peningkatan kesejahteraannya. Semoga!. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved