Seniman Win Dwi Laksono Pamerkan 300 Seni Ilustrasi dan Sketsa Karya di Equalitera Artspace Bantul
Bagi Win, ilustrasi bukan sekadar pelengkap narasi, melainkan bagian integral dalam proses keratif menuju karya-karya patungnya.
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sekitar 300 seni ilustrasi dan sketsa karya Win Dwi Laksono dipajang di Equalitera Artspace, tepatnya di Ring Road Barat, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Minggu (13/7/2025).
Win, sapaan akrabnya, mengatakan pameran tunggal ilustrasi dan sketsa yang bertajuk 'Rindu Masa Lalu' ini terlaksana atas kerjasama antara Win Art Studio dengan Equalitera Artspace. Lalu, pemeran ini dipilih karena dua alasan.
"Alasan pertama sebagai topik yakni ilustrasi yang digoreskan sang seniman untuk menampilkan setting cerita dan rekaman peristiwa pada masa yang telah lalu serta untuk dipresentasikan kepada khalayak pada masa kini," katanya, kepada awak media.
Lalu, asalan kedua, pameran ini sebagai bentuk.
Artinya, seejumlah sketsa yang lahir pada masa lalu menjadi bagian dari proses menuju karya patung yang paripurna.
Tak heran, jika dalam pelaksanaannya terdapat kesan yang terlihat jelas bahwa karya-karyanya merangkum esensi rekaman masa lalu, baik dalam konteks isi cerita maupun proses pajang penciptaan seni dari sketsa menuju wujud akhir.
"Karya-karya yang dipamerkan ini berasal dari rentang waktu sekitar tahun 1980-n sampai 2024. Karya ini menjadi arsip visual perjalanan artistik seorang seniman lintas media," tuturnya.
Bagi Win, ilustrasi bukan sekadar pelengkap narasi, melainkan bagian integral dalam proses keratif menuju karya-karya patungnya.
Sebab, dari goresan sketsa, lahirlah figur-figur tiga dimensi yang menghadirkan dunia 'plausible impossible' atau tampak mustahil namun terasa nyata.
Baca juga: Seniman Indonesia-Belanda Pameran di Magelang, Kenang 114 Tahun Restorasi Candi Borobudur
Ditambahkan, karya-karya yang dipamerkan mengandung pesan tersendiri.
Namun, ada salah satu karya yang menurutnya memiliki kesan cukup dalam.
Karya itu tak lain bernama Bagus Sajiwo yang dibuat pada tahun 1991. Karya itu memiliki makna romantis atau asmara cinta masa lalu.
"Dalam karya itu ada sisi romantis yang berbeda. Tidak bisa saya jabarkan di sini. Intinya, dalam lukisan itu menceritakan masa yang-yangan (perjalanan hubungan asmara Win). Apalagi waktu itu baru-barunya momen pernikahan saya. Itu menurut saya punya kesan yang cukup mendalam," tuturnya.
Uniknya, walau pameran ini menghadirkan karya ilustrasi dan sketsa, namun cukup inklusif dan ramah disabilitas.
Pasalnya, pihaknya juga menyediakan audio diskripsi untuk beberapa karya terpilih, ruang pamer yang aksesibel, serta patung yang bisa diraba langsung.
| Sithik Edhang Padha Rewang, Panggung Seni dari Titik Nol Jogja untuk Sumatera |
|
|---|
| Menelusuri Jejak Kesederajatan Ki Hadjar Dewantara dalam Guratan Kanvas 'Salam dan Bahagia' |
|
|---|
| Bercermin Melalui Pameran 'Silent Resonance', Merayakan Sunyi di Tengah Riuh |
|
|---|
| Pekan Fotografi Sewon, Ketika Kegelisahan Fresh Graduate Menjadi Karya |
|
|---|
| Pameran Ojo Urik dari Alex Pracaya, Menggaungkan Antikorupsi dengan Bahasa Sederhana |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pameran-tunggal-Win-Dwi-Laksono.jpg)