Menelusuri Jejak Kesederajatan Ki Hadjar Dewantara dalam Guratan Kanvas 'Salam dan Bahagia'
Sebanyak 200 karya seni dipamerkan di Gedung Saraswati Sonobudoyo, bertajuk Pameran Seni Rupa Salam dan Bahagia #3
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
Ringkasan Berita:
- Pameran Seni Rupa Salam dan Bahagia #3 di Gedung Saraswati Sonobudoyo menampilkan hampir 200 karya seni, menggambarkan pesan Ki Hadjar Dewantara tentang kesederajatan dan kedalaman jiwa manusia.
- Pameran ini melibatkan seniman lintas generasi, dari mahasiswa hingga seniman kawakan seperti Nasirun, menciptakan harmoni antara karya muda dan senior.
- Melalui karya-karya seni visual, pameran ini menyampaikan pesan kedamaian dan kebahagiaan bagi semua orang yang melihatnya.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sore itu, Senin (22/12/2025), selasar Gedung Saraswati Sonobudoyo tampak lebih hidup dari biasanya.
Wangi cat minyak dan keriuhan rendah para penikmat seni membaur di bawah temaram lampu galeri.
Dinding-dinding abu-abu menjulang, dipadati ratusan karya seni yang seolah "berteriak", menawarkan beragam rasa tentang sebuah kalimat yang sangat akrab di telinga masyarakat Yogyakarta: "Salam dan Bahagia".
Bagi sebagian orang, kalimat itu mungkin sekadar pameo atau sapaan pembuka.
Namun, di tangan para seniman yang tergabung dalam Pameran Seni Rupa Salam dan Bahagia #3 ini, kalimat tersebut adalah sebuah manifesto tentang kesederajatan dan kedalaman jiwa manusia.
Hajar Pamadhi, kurator pameran, menyebut, gelar karya berangkat dari pemikiran sang bapak pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara, yang menghendaki semua orang punya derajat yang sama.
"Salam itu memberikan tabik, sebuah simbol komunikasi dan kesederajatan. Itulah yang dibangun Ki Hadjar Dewantara. Antara saya, Anda, dan semua orang itu kedudukannya sama," ujarnya.
Hajar pun berkisah, semangat tersebut berakar dari pemberontakan lembut Ki Hajar Dewantara, atau Soewardi Soerjaningrat, terhadap tren feodalisme masa lampau.
Alhasil, selama ini, di lingkungan lembaga pendidikannya, gelar-gelar kebangsawanan maupun akademik ditanggalkan, diganti dengan sapaan "Ki" untuk laki-laki dan "Nyi" untuk perempuan.
"Semua gelar dihapus agar orang bawah tidak takut. Semangat itulah yang coba diejawantahkan para seniman ke dalam empat pola representasi," tambahnya.
Dalam pameran, pengunjung disuguhi eksplorasi visual yang tak biasa.
Ada objek yang ditampilkan secara realis-material, seperti wajah-wajah penuh binar kebahagiaan, hingga objek formal yang lebih bersifat esensial.
Baca juga: Cara Wanita Tamansiswa Peringati Hari Ibu, Angkat Teladan Nyi Hadjar Dewantara
Tidak hanya itu, gaya surealisme juga mencuri perhatian. Imajinasi liar seniman lintas generasi membengkokkan realitas menjadi bentuk-bentuk simbolis yang menuntut perenungan lebih dalam.
| Merayakan Kesenian Lewat Pameran Art is All Around di Hotel PORTA by Ambarrukmo |
|
|---|
| Napak Tilas ke Taman Siswa, Aryo Seno Bagaskoro: Pendidikan Harus Memerdekakan, Bukan Dikapitalisasi |
|
|---|
| 7 Event Pameran Seni Rupa Gratis Bulan Januari di Jogja |
|
|---|
| Efisiensi Anggaran Tekan Kunjungan Museum Sonobudoyo, Turun 45.818 Orang Sepanjang 2025 |
|
|---|
| Pameran Arsip ‘Beyond The Notes’, Ruang Kontemplasi Perjalanan Musik Andi Bayou |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Menelusuri-Jejak-Kesederajatan-Ki-Hadjar-Dewantara-dalam-Guratan-Kanvas-Salam-dan-Bahagia.jpg)