Sikapi Polemik Ijazah Jokowi, Relawan Rejo Semut Ireng Serukan Tolak Politik Kebisingan

Rentetan isu ijazah palsu tersebut dinilai bukan sebatas soal legalitas dokumen, tapi lebih ke provokasi distrust terhadap figur Jokowi

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
Dok.Istimewa
Relawan Rejo Semut Ireng saat menyambut kepulangan Joko Widodo (Jokowi) di Solo, beberapa waktu lalu. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Polemik ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), kembali bergulir dan memicu berbagai reaksi di ruang publik, khususnya media sosial.

Komunitas relawan Rejo Semut Ireng pun menyoroti fenomena tersebut, lantaran dianggap semakin menyeret institusi pendidikan dan menimbulkan kegaduhan.

Sekretaris Jenderal Rejo Semut Ireng, Rinatania Fajriani, mengatakan narasi yang terus didorong terkait keabsahan ijazah Jokowi tidak memiliki landasan substansial.

Meski, perempuan yang juga lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu memahami, bahwa dinamika politik di kalangan alumni adalah nyata dan historis.

"Tapi, Pemilu sudah selesai. Saatnya kita kembali duduk bersama, berkolaborasi demi agenda besar, untuk kemajuan dan kemakmuran bangsa Indonesia," katanya, Kamis (10/7/2025).

Menurutnya, serangan personal terhadap Jokowi yang tidak berbasis fakta hukum, hanya akan mencederai integritas publik dan menyesatkan fokus demokrasi. 

Ia pun memandang, rentetan isu ijazah palsu tersebut bukan sebatas soal legalitas dokumen, tapi lebih ke provokasi distrust terhadap figurnya.

"Ketika narasi yang dibangun hanya untuk merusak legitimasi dan legacy beliau, ya wajar kalau publik bertanya, apa yang sebenarnya sedang disembunyikan lewat kebisingan ini," cetusnya.

Baca juga: Amien Rais Belum Berikan Keterangan Resmi soal Tudingannya ke  Jokowi

Ditegaskan, Rejo Semut Ireng sejak awal berdiri sebagai garda terdepan mendukung Jokowi, bukan sekadar dalam momen elektoral, tetapi juga kerja-kerja sosial pasca-Pilpres.

Selepas pesta demokrasi, pihaknya pun kembali ke tengah masyarakat, menjalankan program pemberdayaan petani, nelayan, UMKM, hingga edukasi politik berbasis gotong royong.

"Kami tidak akan terjebak dalam polarisasi pasca-Pemilu. Di dunia politik, selalu ada menang dan kalah. Tapi, substansi demokrasi adalah kemampuan untuk berdamai setelah kontestasi," ucapnya.

Lebih lanjut, Rina mengajak para alumni UGM dan seluruh elemen bangsa untuk senantiasa menjunjung etika intelektual, mengedepankan akal sehat, serta menolak politik kebisingan yang kontraproduktif.

"Kalau berani bertanding, harus siap menang dan siap kalah. Tapi, yang paling penting, siap dewasa. Demokrasi bukan soal siapa paling keras bersuara, tapi siapa paling bijak setelah suara dihitung," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved