76 SD Negeri di Sleman Sepi Peminat, Jumlah Murid Baru Kurang dari 10 Anak

Pada tahun ajaran 2025/2026 ini, banyak sekolah yang hanya menerima kurang dari 10 anak sebagai murid baru.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
DOK. Freepik
ILUSTRASI - SPMB 2025 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sejumlah SD Negeri di Kabupaten Sleman mengalami penurunan jumlah murid yang cukup signifikan.

Pada tahun ajaran 2025/2026 ini, banyak sekolah yang hanya menerima kurang dari 10 anak sebagai murid baru.

Jumlah anak usia masuk SD sedikit, sementara jumlah satuan pendidikan semakin banyak, ditambah pilihan orangtua yang cenderung menyekolahkan anak ke sekolah swasta yang dianggap lebih unggul menjadi faktor minimnya pendaftar ke SD Negeri

Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sleman, Sri Adi Marsanto, mengatakan di Kabupaten Sleman ada 374 SD Negeri.

Dari jumlah tersebut, 76 sekolah menerima murid baru kurang dari 10 anak, termasuk SD Negeri Taraman, di Kelurahan Sinduharjo Ngaglik yang tahun ini hanya menerima 3 murid baru.

Meski demikian, ia memastikan kegiatan pembelajaran tetap jalan. 

"Walupun cuma menerima 3 murid, kegiatan belajar mengajar tetap jalan," kata Adi, kamis (10/7/2025). 

Terkait regrouping atau pengelompokan sekolah yang minim murid ke sekolah lain, menurut Adi, kebijakan tersebut masuk dalam kajian.

Namun dasar kebijakan regrouping tidak semata mata hanya karena sekolah kekurangan siswa.

Tetapi turut mempertimbangkan beberapa aspek lain. Termasuk melibatkan kebijakan dari Pemerintah Kabupaten, tidak bisa hanya diputuskan Dinas Pendidikan. 

"Intinya terkait regrouping juga sudah ada kajian. Sebetulnya itu hal biasa. Bukan hal yang luar biasa. Tapi sekarang belum ada (kebijakan regrouping), kalau kajian sudah. Eksekusinya seperti apa, itu menjadi kebijakan pemerintah daerah bukan lagi dinas pendidikan," ujarnya. 

Baca juga: 76 SD Negeri di Sleman Sepi Peminat, Bupati Harda Kiswaya: Sekolah itu Pilihan

Adi membeberkan sejumlah faktor mengapa 76 SD negeri di Kabupaten Sleman minim murid baru.

Pertama, karena usia anak masuk SD di sekitar lokasi sekolah minim, atau relatif tidak banyak.

Kedua, untuk sekolah jenjang PAUD-TK hingga SD banyak orang tua yang kecenderungan menyekolahkan anaknya ke swasta.

Hal ini karena orangtua lebih memilih sekolah yang memiliki basis agama. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved