26 SD di Kulon Progo Kekurangan Siswa, Wacana Regrouping Muncul

Sekretaris Disdikpora Kulon Progo, Nur Hardiyanto menyampaikan sudah dilakukan kajian terhadap rencana penggabungan sekolah.

|
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Yoseph Hary W
MChe Lee/Unsplash.com
Ilustrasi sekolah 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo berencana melakukan regrouping atau penggabungan untuk puluhan unit Sekolah Dasar (SD) di wilayahnya. Rencana ini bergulir lantaran masalah kekurangan pelajar di sekolah-sekolah tersebut.

Sekretaris Disdikpora Kulon Progo, Nur Hardiyanto menyampaikan sudah dilakukan kajian terhadap rencana penggabungan sekolah.

"Kami memetakan sebanyak 26 SD yang rencananya akan digabung menjadi 12 SD," kata Nur pada Kamis (10/07/2025).

Sebanyak 26 SD tersebut tercatat rata-rata hanya memiliki 50 pelajar per sekolah atau sekitar 10 pelajar per kelas. Padahal idealnya, untuk jenjang SD minimal sebanyak 28 anak dalam 1 kelas.

Nur menjelaskan jumlah minimal tersebut berdasarkan pertimbangan perlunya interaksi sosial dan dinamika kelompok dialami oleh pelajar. Jika terlalu sedikit, diyakini interaksi sosial antar pelajar tidak mampu berjalan optimal.

"Memang kalau pelajarnya sedikit, pembelajaran menjadi lebih fokus, tapi interaksi sosialnya jadi tidak berjalan," jelasnya.

Menurut Nur, penggabungan akan berdasarkan kedekatan lokasi antar sekolah. Prosesnya pun perlu strategi yang tepat agar penggabungan sekolah tidak menjadi masalah di kemudian hari.

Nantinya para guru akan ditempatkan di sekolah induk hasil penggabungan. Sedangkan pelajarnya diberi pilihan sesuai kebutuhan dan kondisi mereka, terutama dari sisi jarak tempuh.

"Pelajar bisa ikut ke sekolah hasil penggabungan atau sekolah lain yang dianggap lebih dekat selama daya tampungnya masih tersedia," ujar Nur.

Salah satu SD yang mengalami kekurangan pelajar adalah SD Negeri Balong di Kalurahan Banjarsari, Kapanewon Samigaluh. Sekolah itu berada di kawasan Pegunungan Menoreh.

Kepala SDN 1 Balong, Arif Gunawan mengatakan hanya ada 2 pelajar baru di tahun ajaran baru ini. Satu siswa merupakan hasil SPMB 2025, sedangkan 1 lagi berstatus titipan.

"Penurunan jumlah pelajar ini sudah terjadi setidaknya dalam 3 tahun terakhir," jelasnya.

Menurut Arif, jumlah anak usia sekolah di wilayah sekitar sekolah cenderung sedikit. Sedangkan jumlah SD di Kalurahan Banjarsari cukup banyak sehingga tak sebanding dengan jumlah anak usia sekolah.

Di Gunungkidul

Sebanyak 21 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Gunungkidul mengalami kekurangan murid pada seleksi penerimaan murid baru (SPMB) 2025. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved