Ekspor-Impor DIY Naik di Tengah Gejolak Dunia, Ini Kata Disperindag

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, nilai ekspor daerah mencapai 222,89 juta dollar AS atau meningkat sebesar 10,57 persen

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
Ilustrasi ekspor impor DIY 

TRIBUNJOGJA.COM - Aktivitas ekspor dan impor di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan lonjakan signifikan sepanjang Januari hingga Mei 2025.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, nilai ekspor daerah mencapai 222,89 juta dollar AS atau meningkat sebesar 10,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, nilai impor naik 26,16 persen menjadi 77,59 juta dollar AS.

Peningkatan ini salah satunya dipicu oleh kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sejak awal April 2025 memberlakukan tarif bea masuk baru sebesar 10 hingga 49 persen untuk sejumlah negara.

Namun, terdapat penundaan implementasi tarif tersebut selama 90 hari yang dimulai pada 9 April, sehingga dalam masa tersebut hanya berlaku tarif dasar sebesar 10 persen.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Yuna Pancawati, kondisi ini dimanfaatkan eksportir DIY untuk memperbesar volume pengiriman ke pasar Amerika Serikat sebagai antisipasi sebelum tarif baru diberlakukan penuh.

"Negara tujuan Amerika sebagai pasar utama DIY, mereka memanfaatkan peluang itu," ujarnya.

Februari 2025 tercatat sebagai bulan dengan nilai ekspor tertinggi sepanjang lima bulan pertama tahun ini.

Salah satu pendorong utamanya adalah meningkatnya ekspor dari sektor industri pengolahan, yang menyumbang hingga 99,36 persen dari total ekspor DIY.

Produk unggulan seperti garmen, sarung tangan, kerajinan tangan, furniture, hingga minyak atsiri dan produk kecantikan menjadi andalan yang terus didorong ekspornya.

"Secara umum kendala UKM untuk melakukan ekspor yakni terkendala menemukan buyer yang sesuai," terangnya.  

Kondisi geopolitik global sempat mengganggu jalur pengiriman internasional, terutama akibat terganggunya akses melalui Terusan Suez.

Namun, eksportir dan importir dari DIY dinilai lebih cepat beradaptasi dengan kondisi tersebut dibanding saat awal meletusnya konflik Israel–Hamas.

Hal ini memungkinkan ekspor ke kawasan Eropa tetap berjalan meski dengan penyesuaian rute logistik.

"(Importir maupun eksportir) otomatis mengirimkan barang lebih banyak, sebagai antisipasi apabila setelah 90 hari akan diberlakukan tarif baru Trump," jelasnya.  

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved