Doktrin Ganti Rezim dan Kegagalan Operasi Israel-Amerika
Satu-satunya cara adalah melenyapkan kepemimpinan Iran saat ini, menggantinya dengan rezim yang patuh dan tunduk pada hegemoni Washington.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Muhammad Fatoni
Di antara perkembangan paling signifikan sejauh ini adalah pembunuhan beberapa komandan senior Iran, termasuk Komandan Angkatan Darat Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayor Jenderal Hossein Salami, dan Kepala Pasukan Dirgantara, Mayor Jenderal Amir Ali Hajizadeh.
Pembunuhan yang ditargetkan ini merupakan pukulan paling parah bagi kepemimpinan militer Iran sejak perang 1980-1988 dengan Irak.
Namun, di balik permukaan, serangan tersebut bukan sekadar manuver militer – melainkan ekspresi doktrin politik yang telah dibuat selama beberapa dekade.
Sementara pejabat Israel secara terbuka membingkai operasi tersebut sebagai tindakan mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, logika strategisnya yang lebih dalam tampak semakin jelas: destabilisasi – dan akhirnya keruntuhan – Republik Islam.
Selama bertahun-tahun, beberapa ahli strategi Israel dan Amerika berpendapat – terkadang secara diam-diam, terkadang secara terang-terangan –satu-satunya solusi yang bertahan lama untuk ambisi nuklir Iran adalah pergantian rezim.
Kampanye saat ini sejalan dengan tujuan jangka panjang ini, tidak hanya melalui cara militer tetapi juga melalui tekanan psikologis, politik, dan sosial di dalam Iran.
Perkembangan terkini menunjukkan operasi tersebut dirancang untuk memprovokasi tahap awal pemberontakan internal.
Buku pedoman tersebut tidak asing bagi pengamat upaya pergantian rezim di masa lalu: pembunuhan pejabat tinggi militer, perang psikologis, kampanye disinformasi, dan penargetan simbolis terhadap lembaga negara.
Di Teheran, serangan siber yang didukung Israel dan serangan presisi dilaporkan telah menghantam gedung-gedung pemerintah dan Kementerian.
Bahkan mengganggu siaran televisi nasional untuk sementara waktu – pilar utama infrastruktur komunikasi Republik Islam.
Retorika politik Israel telah menggemakan arah ini.
Dalam pengarahan tertutup dan wawancara media terpilih, para pejabat telah mengakui fasilitas nuklir bawah tanah Iran di pegunungan Zagros dan Alborz – tidak dapat dihancurkan tanpa partisipasi penuh Amerika Serikat.
Secara khusus, operasi tersebut akan memerlukan penggunaan bom GBU-57 “Massive Ordnance Penetrator”, yang hanya dapat dikirim oleh pembom strategis B-2 atau B-52 Amerika.
Dengan tidak adanya kemampuan tersebut, para pemimpin Israel tampaknya telah menyimpulkan menghentikan program nuklir Iran tidak mungkin dilakukan tanpa perubahan pemerintahan.
Konteks ini memberi makna baru pada upaya militer dan politik Israel secara bersamaan.
| Misteri Sinyal SOS F-35 Lightning II di Atas Selat Hormuz |
|
|---|
| Pascaperingatan Rudal Iran, AS Hentikan Operasi Pengawalan Kapal di Selat Hormuz |
|
|---|
| Trump Perintahkan Militer Kawal Kapal di Selat Hormuz, Iran Beri Peringatan Keras |
|
|---|
| Iran Tak Gentar, Siap Balas Serangan AS |
|
|---|
| Blokade Jalur Energi: Iran Siapkan Manajemen Baru di Selat Hormuz Lawan Amerika |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/httpswwwyoutubecomwatchvNcIC6aRqa4o.jpg)