Doktrin Ganti Rezim dan Kegagalan Operasi Israel-Amerika

Satu-satunya cara adalah melenyapkan kepemimpinan Iran saat ini, menggantinya dengan rezim yang patuh dan tunduk pada hegemoni Washington. 

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM
Media pemerintah Iran mengonfirmasi tiga situs nuklir Teheran diserang pada Sabtu (21/6/2025) 

TRIBUNJOGJA.COM - Senator Amerika dari Partai Republik Lindsey Graham, terus menggemakan pergantian kepemimpinan di Iran

Tokoh neokonservatif terkemuka itu mendesak Presiden Donald Trump menggulingkan rezim Ayatollah Ali Khamenei. 

Kampanye serupa dikemukakan Senator Ted Cruz, para “hawkish” Amerika dan penghasut perang (warmonger) seperti John Bolton serta Mike Pompeo.

Dua tokoh ini masing-masing pernah menjadi Penasihat Keamanan dan Menteri Luar Negeri Donald Trump di periode pertama pemerintahannya. 

Lindsey Graham memandang, penghancuran instalasi proyek nuklir Iran seperti yang baru saja dilakukan Trump, belumlah cukup.

Pemboman di Fordow, Natanz, dan Isfahan menurutnya hanya cara menunda, bukan melenyapkan sama sekali kapabilitas Iran.

Satu-satunya cara adalah melenyapkan kepemimpinan Iran saat ini, menggantinya dengan rezim yang patuh dan tunduk pada hegemoni Washington. 

Secara samar, upaya itu dilancarkan intelijen Amerika ketika Reza Pahlevi muncul di televisi Amerika, menyerukan rakyat Iran agar memberontak Khamenei.

Reza Pahlevi adalah putra mendiang Shah Reza, penguasa terakhir Iran yang sangat pro-Amerika, saat Revolusi Islam menyapu Iran.

Di masa Shah Reza pula, Teheran memiliki hubungan sangat dekat dengan Israel.

Kepemimpinan Imam Ali Khomenei sejak 1979 mengubah segalanya. 

Baca juga: Iran Anggap Klaim Gencatan Senjata Oleh Trump Adalah Tipuan

Kampanye penggulingan rezim di Iran oleh Lindsey Graham yang dikenal sangat pro-Yahudi, tentu saja sejalan dengan agenda gelap Israel

Agresi militer ke Iran pada 13 Juni 2025 mengawali proyek rahasia di dalam wilayah Iran dijalankan mata-mata Mossad dan kolaborator lokalnya. 

Secara teknis kemiliteran, apa yang dilakukan Israel hari itu menarik karena menunjukkan serangan lintas batas paling penting dalam sejarah terkini kawasan tersebut. 

Lebih dari sekadar operasi yang ditargetkan terhadap silo rudal atau fasilitas nuklir, serangan tersebut mencakup pembunuhan tingkat tinggi dan serangan siber yang canggih. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved