SPAKTRA: Dentuman Crossover Metal dari Morbid Wonolelo Yogyakarta Rilis Demo Perdana ‘War Ashes’

Band ini dibentuk akhir 2023 oleh Jocelyn Matter (vokal) dan Ajimas Anang (gitar), lalu diperkuat oleh Yadi Darmawan (bass), Bima Putra (drum)

Penulis: Santo Ari | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
Personel SPAKTRA dan artwork 

TRIBUNJOGJA.COM - Di tengah ledakan band ekstrem dari berbagai penjuru negeri, SPAKTRA muncul dari kawasan Morbid Wonolelo, Yogyakarta, membawa spirit crossover/thrash yang segar dan penuh amarah, tapi juga reflektif. 

Band ini dibentuk akhir 2023 oleh Jocelyn Matter (vokal) dan Ajimas Anang (gitar), lalu diperkuat oleh Yadi Darmawan (bass), Bima Putra (drum), Juan R Randy dan Yusuf Oktaviana (gitar).

Mereka bukan hanya sekadar reinkarnasi dari thrash lawas, tapi entitas baru yang dibentuk oleh banyak pengaruh,  dari Slayer sampai Sepultura, dari Pantera hingga Fugitive.

SPAKTRA lahir dari cinta terhadap Bay Area thrash, namun tak terpaku pada satu jalur.

Mereka menggali banyak sisi dari groove metal hingga crossover modern.

Pengaruh old school itu bisa sebagai kompas, bukan kurungan, sebuah prinsip yang jelas terdengar di rilisan perdana mereka, demo War Ashes yang dirilis 7 Mei 2025.

Demo “War Ashes” sendiri berisi 4 lagu berdurasi total 18 menit. Alih-alih mengumbar kekerasan dan kebencian dalam lirik seperti banyak band crossover lainnya, SPAKTRA justru mengangkat konsep “Confusion Guardian” sebuah figur simbolik yang mewakili suasana melankolis dan perenungan. 

“War Ashes menjadi metafora gerbang dosa tanpa akhir yang dilakukan manusia, sebuah bentuk refleksi terhadap kesalahan yang tak terampuni di masa lalu,” ujar Yadi Darmawan (bass). 

Lagu pembuka, "Allegory of The Cave", menyuguhkan atmosfer penuh kekosongan dan kemarahan, lalu diperkuat dengan kolaborasi bersama Weirdasfuzz yang memberikan sentuhan dark wave sebagai intro remix. Tiga lagu lainnya diproduksi oleh Anselmus Bagas di Shrine of Anguish’s Studio, Yogyakarta.

Melalui rilisan ini, SPAKTRA menyampaikan pesan inti mereka dengan lugas: “War Ashes” adalah peperangan antara manusia dan hasratnya sendiri.

Mereka mengakui betapa seringnya manusia bertindak jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, merusak sesama dan bumi tempat tinggalnya.

Lewat musik, mereka ingin mengkritik dosa-dosa itu, dosa yang merusak keseimbangan alam dan kehidupan.

Sebagai band yang lahir dari lingkungan yang menjunjung tinggi semangat kolektif dan gotong royong, SPAKTRA membawa semangat DIY dalam setiap karyanya.

Mulai dari produksi musik, desain visual, hingga pembuatan teaser dan aspek teknis lainnya, semua dikerjakan secara mandiri bersama orang-orang terdekat.

Kolaborasi bersama Weirdasfuzz menjadi bukti semangat eksploratif dan keterbukaan mereka terhadap berbagai pendekatan artistik.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved