Unik! 5 Seniman Alumni ISI Yogyakarta Ini Merayakan Reuni Lewat Pameran 'Pertemuan'

Pameran lintas ideologi itu berlangsung di Jogja Gallery, Jalan Pekapalan, Kemantren Gondomanan, Kota Yogyakarta, selama 18-23 Juni 2025.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUN JOGJA/AZKA RAMADHAN
PAMERAN - Salah satu sudut pameran seni rupa 'Pertemuan', di Jogja Gallery, Kota Yogyakarta, Rabu (18/6/2025) malam. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Lima seniman alumni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta angkatan 1998 ini memilih cara unik untuk bereuni.

Mereka adalah Deni Setiawan, Dona Prawita Arisuta, Oetje Lamno, N. Rinaldy, hingga Moko Jepe.

Tidak mau sekadar kumpul-kumpul tanpa gagasan, seniman yang tergabung dalam Kelompok Lima tersebut, bereuni dengan menggelar sebuah pameran bertajuk 'Pertemuan'.

Pameran lintas ideologi itu berlangsung di Jogja Gallery, Jalan Pekapalan, Kemantren Gondomanan, Kota Yogyakarta, selama 18-23 Juni 2025.

Melalui ajang tersebut, kelima seniman pun ingin menggelorakan, sekaligus merayakan konsistensinya dalam berkarya, sejak lulus dari bangku kuliah kisaran 2004 lalu.

Ketua Kelompok Lima, Deni Setiawan, mengatakan, secara keseluruhan, terdapat lebih dari 300 karya yang ambil bagian dalam pameran ini.

Karya-karya yang dipilih merepresentasikan tiga dimensi pertemuan utama, yakni pertemuan antar sahabat sebagai bentuk keintiman, nostalgia, dan penciptaan ruang bersama.

Lalu, pertemuan pemikiran yang menandai dialog antar wacana, antar generasi, antar medium ekspresi, bahkan pertemuan ideologi.

Dimensi terakhir pun menunjukkan suatu ketegangan, negosiasi, dan resistensi sebagai bagian dari dinamika sosial dan politik dalam praktik seni.

"Melalui lukisan, karya instalasi, dan keramik, kami ingin merenungkan kembali, bagaimana kita bertemu, dan bagaimana pertemuan membentuk kita. Tidak selalu harmonis, tidak selalu seragam, tapi selalu hidup," kata Dani, Rabu (18/6/2025) malam.

Menurutnya, pameran Pertemuan pun dirancang sebagai ruang terbuka, bukan untuk menetapkan makna, namun menumbuhkan peluang percakapan yang dinamis. 

Sehingga, sama sekali tidak ada batasan mengenai karya yang ditampilkan, lantaran setiap seniman punya gaya dan ideloginya masing-masing.

"Misalnya, saya dalam pameran ini menyoroti isu korupsi. Saya melakukan riset, lalu menuangkannya ke dalam karya yang menggambarkan situasi politik di negeri ini, khususnya soal korupsi," ucapnya.

"Teman-teman yang lain, ya beda lagi, tidak ada tema spesifik dalam pameran ini. Hanya pertemuan, itu saja, yang mempertemukan beberapa ideologi dari lima seniman yang berkarya di sini," urai Deni.

Sementara, Moko Jepe memilih menggambarkan angan-angan masa kecilnya dalam pameran ini, terkait imajinasi sebelum manusia diciptakan oleh Tuhan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved