Viral
Pendapat Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Soal Wisuda dan Study Tour Sekolah, Ini Alternatifnya
Bapak Dedi Mulyadi berpendapat bahwa acara wisuda atau perpisahan sekolah akan membebani orang tua.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM- Study Tour dan wisuda saat perpisahan merupakan dua hal yang menyenangkan.
Study tour dapat membuat siswa semakin mengenal tempat–tempat di Indonesia secara meluas dan wisuda sekolah dapat membuat momen kebersamaan bagi para murid setelah melewati masa ujian.
Namun, akhir-akhir ini viral perdebatan antara Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat dengan Aura Cinta, seorang gadis yang baru saja lulus SMA.
Aura Cinta berpendapat bahwa perpisahan sekolah merupakan kegiatan yang harus dilaksanakan lantaran kegiatan tersebut dapat menjadi momen terakhir berkumpul dengan teman-teman satu angkatan.
Di sisi lain, Dedi Mulyadi membantah argumen tersebut dan menyarankan untuk tidak menggelar acara perpisahan dengan alasan perekonomian.
Dedi Mulyadi berpendapat bahwa acara wisuda atau perpisahan sekolah akan membebani orang tua, melihat kondisi perekonomian masyarakat di sana tergolong dalam kelas bawah.
Dalam kasus ini, banyak netizen Indonesia yang mendukung pendapat Dedi Mulyadi dalam kolom komentar di akun TikTok @KANGDEDIMULYADI.
Lantas, apa saja alasan yang membuat banyak warganet Indonesia mendukung Study Tour dan wisuda tingkat sekolah dihapuskan?
Berikut alasan study tour dan wisuda tingkat sekolah dihapuskan, penjelasan dari Dedi Mulyadi:
1. Beban Biaya yang Membebani Orang Tua
Alasan utama yang sangat kuat untuk meniadakan acara wisuda sekolah adalah biaya yang dianggap mahal dan membebani orang tua.
Terlebih, jika acara ini dilaksanakan di sekolah tingkat menengah kebawah.
Biaya wisuda dan study tour dapat menjadi sangat mahal karena memerlukan berbagai hal, seperti transportasi, sewa tenda/gedung, dekorasi, dokumentasi, konsumsi, dan sebagainya.
Ditambah, jika orang tua memiliki lebih dari satu anak yang merayakan atau mengikuti study tour dan wisuda sekolah.
Oleh karena biaya yang menjadi beban orang tua, maka dalam hal ini, Dedi Mulyadi menyepakati kebijakan bupati dalam meniadakan acara wisuda tingkat sekolah.
Hal ini didukung dengan keadaan perekonomian masyarakat Jawa Barat yang masih banyak masyarakat belum memiliki tempat tinggal, menunggak biaya seragam, dan biaya penebusan ijazah.
“Yang nunggak baju sekolah ini sampai sekarang masih banyak, yang nunggak ijazah itu di Jawa Barat sangat banyak,” ujar Dedi Mulyadi.
“Berapa, coba, total tagihan biaya yang harus dibayar oleh pemerintah Provinsi?” Tanya Dedi Mulyadi kepada masyarakat.
“1,3 Triliun,” Jawabnya.
2. Potensi Risiko Keselamatan Siswa
Secara tidak langsung, dalam argumennya, di depan masyarakat yang tinggal di gandaran sungai, ia mengatakan bahwa acara study tour memiliki risiko keselamatan bagi siswa.
“Kalau besok busnya terbalik, tanggung jawab sendiri,” ujarnya.
Hal tersebut menunjukan bahwa adanya risiko yang dapat terjadi saat kegiatan study tour atau perpisahan di luar lingkungan sekolah.
Melalui tuturannya tersebut, Bapak Dedi Mulyadi seolah memberi informasi adanya risiko yang akan terjadi saat study tour atau perpisahan di luar sekolah.
Apabila hal itu terjadi, maka pihak sekolah lah yang harus mempertanggungjawabkan semuanya.
Namun, apabila kegiatan dilakukan sendiri, tanpa terkait dengan pihak sekolah, maka risiko menjadi tanggung jawab penyelenggara acara (siswa).
Dengan begitu, adanya risiko keselamatan dan keamanan siswa menjadi salah satu alasan untuk meniadakan acara perpisahan di luar sekolah dan study tour.
3. Potensi Pungutan Liar dan Penyimpangan Anggaran
Kekhawatiran selanjutnya saat mengadakan acara wisuda dan study tour adalah potensi pungutan liar dan penyimpangan anggaran.
Hal ini disampaikan langsung oleh Pak Dedi Mulyana.
“Kumpul-kumpul aja, tapi jangan melibatkan sekolah karena kalau melibatkan sekolah, sekolah jadi mungut,” ujarnya.
Potensi pungutan liar ini juga dapat menjadi beban biaya bagi orang tua dan memberi keuntungan bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Oleh karena itu, tak heran bila potensi adanya pungutan liar ini menjadi salah satu alasan yang kuat untuk meniadakan acara perpisahan/wisuda dan study tour.
4. Alternatif Lain Merayakan Perpisahan Sekolah
Meskipun Dedi Mulyana mendukung penuh adanya penghilangan acara perpisahan atau wisuda sekolah dan study tour dengan berbagai alasan yang kuat dan realistis, ia tetap memberikan alternatif lain untuk merayakan perpisahan sekolah.
Dikutip dari Kompas.com, Dedi Mengatakan bahwa perpisahan sekolah dapat dilakukan dengan menampilkan penampilan seni, seperti musik, tari, dan sastra.
Alternatif lain yang Diberikan oleh pak Dedi adalah siswa membuat acar kumpul-kumpul sendiri tanpa melibatkan lembaga.
“Kamu aja bikin (acara perpisahan),” ujarnya.
Hal itu karena baginya, kenangan tidak hanya berasal dari acara perpisahan, tetapi berasal dari kebersamaan selama siswa di sekolah.
Itulah beberapa argumen yang disampaikan oleh Dedi Mulyadi tentang wisuda atau perpisahan dan study tour di tingkat sekolah. ( MG BENEDICTA FAYOLA )
Sumber: Kompas.com dan akun TikTok @KANGDEDIMULYADI.
| Deretan Film Indonesia yang Akan Diadaptasi ke Versi Korea Selatan |
|
|---|
| Mengenal Tren Fart Walk, Rasakan Manfaat Kentut Sambil Berjalan |
|
|---|
| Asal-Usul Pani Puri, Makanan Khas India yang Viral di TikTok Indonesia |
|
|---|
| Mengenal Balut: Makanan Khas Filipina, Berupa Embrio Bebek yang Viral di Indonesia |
|
|---|
| Mengenal Paus Leo XIV dan Alasan Memilih Nama Leo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Disdik-Lindungi-Siswi-SMAN-7-Cirebon-yang-Bongkar-Dugaan-Korupsi-PIP-Oknum-Guru-Minta-Maaf.jpg)