Paus Fransiskus Meninggal Dunia

Mengapa Cincin Paus Fransiskus Dihancurkan? Ternyata Ini Alasannya

Di balik prosesi wafatnya seorang paus, ada satu tradisi kuno Gereja Katolik yang selalu menarik perhatian penghancuran cincin paus.

Tayang:
Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Bunga Kartikasari
Kolase foto Tribunjogja.com
Mengapa Cincin Paus Fransiskus Dihancurkan? Ternyata Ini Alasannya 

TRIBUNJOGJA.COM - Kepergian Paus Fransiskus pada usia 88 tahun, Senin (21/4/2025), membawa duka mendalam bagi umat Katolik di seluruh dunia. 

Di balik prosesi wafatnya seorang paus, ada satu tradisi kuno Gereja Katolik yang selalu menarik perhatian penghancuran cincin paus.

Mengapa cincin yang begitu penting itu harus dihancurkan setelah sang paus wafat? 

Tradisi ini ternyata bukan sekadar simbol, tapi memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan otoritas dan keamanan Gereja.

Simbol Akhir Kekuasaan dan Perlindungan terhadap Penyalahgunaan

Menurut Encyclopedia Britannica, cincin kepausan yang dikenal dengan sebutan Fisherman’s Ring secara tradisional dihancurkan oleh Kardinal Camerlengo menggunakan palu khusus, segera setelah paus dinyatakan wafat. 

Penghancuran ini dilakukan sebagai tanda bahwa masa kekuasaan sang paus telah usai.

Selain sebagai simbol berakhirnya otoritas, penghancuran cincin juga bertujuan mencegah potensi penyalahgunaan. 

Di masa lampau, cincin paus digunakan untuk membubuhkan cap pada dokumen-dokumen resmi. Jika cincin tersebut jatuh ke tangan yang salah, ia bisa dipakai untuk memalsukan dokumen Gereja.

Baca juga: PROFIL Kardinal Ignatius Suharyo, Putra Bantul yang Wakili Indonesia di Pemakaman Paus Fransiskus

Tradisi ini dijalankan di hadapan Dewan Kardinal sebelum konklaf, atau proses pemilihan paus baru, dimulai.

Tradisi yang Mulai Berubah

Sejak pengunduran diri Paus Benediktus XVI pada 2013, prosedur penghancuran cincin mulai mengalami perubahan. 

Alih-alih dihancurkan, kini cincin hanya ditandai salib pada bagian atasnya dipahat sebagai bentuk pembatalan wewenang.

Perubahan ini tak menghilangkan makna, namun menyesuaikan dengan konteks zaman yang semakin modern.

Makna Mendalam di Balik Cincin Paus

Cincin Paus tidak sekadar perhiasan. Cincin ini memiliki makna spiritual dan historis yang dalam. 

Diberikan saat pelantikan, Fisherman’s Ring menampilkan gambar Santo Petrus, sang Rasul yang dikenal sebagai nelayan, serta nama paus yang sedang menjabat.

Dalam sejarah Gereja, Santo Petrus diyakini sebagai paus pertama dan penerus langsung dari Yesus Kristus. Maka, setiap paus yang baru dilantik dipercaya sebagai penerus Petrus, dan cincin tersebut menjadi simbol kontinuitas serta legitimasi otoritas rohani.

Tradisi Mencium Cincin Paus: Antara Hormat dan Kontroversi

Tak kalah menarik adalah kebiasaan mencium cincin paus. 

Tradisi ini sudah berlangsung sejak masa Paus Pius X pada awal abad ke-20. Tindakan mencium cincin diyakini membawa indulgensi pengampunan atas dosa tertentu.

Namun, sejak era Paus Paulus VI, praktik ini mulai berkurang karena dianggap terlalu formal dan mencerminkan hierarki yang kaku. Meski begitu, tradisi ini tidak benar-benar dihapuskan.

Paus Fransiskus, misalnya, sempat menjadi sorotan pada 2019 ketika ia menarik tangannya saat para peziarah mencoba mencium cincinnya. 

Belakangan ia menjelaskan bahwa tindakannya semata-mata untuk alasan kesehatan menghindari penyebaran kuman melalui kontak fisik.

Sebuah Warisan yang Terus Hidup

Cincin paus bukan hanya simbol kekuasaan rohani, melainkan juga warisan sejarah yang mencerminkan perjalanan panjang Gereja Katolik. 

Meski zaman berubah dan tradisi terus beradaptasi, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap lestari.

Penghancuran atau penandaan cincin paus menjadi momen sakral yang menandai akhir satu bab dan awal dari bab berikutnya dalam sejarah Gereja Katolik.

Cincin paus dihancurkan setelah paus wafat dan kematiannya dikonfirmasi secara resmi oleh Kardinal Camerlengo.

Berikut urutannya secara lebih rinci:

1. Konfirmasi Kematian Paus


Setelah Paus dinyatakan wafat, Kardinal Camerlengo akan memverifikasi kematiannya secara formal.

2. Pengambilan Cincin dan Bulla


Camerlengo lalu mengambil cincin paus (Fisherman's Ring) dan juga bulla (meterai resmi paus lainnya).

3. Penghancuran di Hadapan Dewan Kardinal


Cincin tersebut dihancurkan (atau ditandai, tergantung tradisinya) di depan Dewan Kardinal.

Ini biasanya dilakukan sebelum konklaf dimulai, yaitu proses pemilihan paus baru.

Tradisi ini dilakukan secepat mungkin setelah kematian paus demi menjaga keamanan dan simbolisme transisi kekuasaan.

( Tribunjogja.com / Bunga Kartikasari )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved