Inspiring Beauty
Ika Fokus Gerakan Inisiasi Food Rescue
Ika mengembangkan gerakan food rescue atau penyelamatan makanan berlebih untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Agus Wahyu
TRIBUNJOGJA.COM - Menjadi pegiat sosial merupakan aktivitas yang kini menjadi fokus perempuan bernama Ika Kurniati. Ika, begitu sapaan akrabnya, tengah mengembangkan gerakan food rescue atau penyelamatan makanan berlebih untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.
Ika menuturkan, gerakan yang ia inisiasi ini adalah buah keresahannya mendapati dua kenyataan yang bertolak belakang. Yakni kenyataan, bahwa banyak sekali makanan berlebih yang dihasilkan dari hospitality hingga rumahan yang ujungnya menjadi sampah lantaran tak ada lagi yang mengkonsumsi.
Sementara pada satu sisi, faktanya, masih ada masyarakat yang kesulitan mendapatkan makanan layak yang memenuhi standar baik nilai gizi. Berangkat dari keresahan itulah, Ika yang kebetulan sempat menjadi sukarelawan di kegiatan serupa di Jakarta, memberanikan diri membuat gerakan sosial food rescue.
"Berbagi Bites Jogja (BBJ) merupakan sebuah organisasi non-profit yang fokus pada gerakan food rescue. Food rescue bertujuan mengurangi kelaparan dan limbah makanan penyebab emisi karbon. BBJ menghubungkan pendonor surplus makanan dengan penerima manfaat (Food Heroes), menciptakan hubungan berkelanjutan untuk lingkungan dan kemanusiaan," ungkap Ika.
Kini, Ika dan para sukarelawan BBJ terus melakukan literasi dan edukasi dengan harapan semakin banyak orang menyadari, bahwa salah satu penyumbang sampah harian terbesar di Indonesia berasal dari sisa makanan dan makanan berlebih yang berakhir menjadi sampah.
Bagi Ika, BBJ merupakan salah satu caranya berbagi kepada sesama. Selain itu, kegiatan sosial menjadi jawaban penting atas keresahan paska ia pensiun dari profesi sebelumnya, yang sudah ia geluti dua dekade lebih di dunia perbankan.
Diakui Ika, awal-awal menjalani masa pensiun, Ika juga sempat merasa khawatir lantaran tak lagi memiliki kegiatan harian yang pasti. Untuk itu, Ika berusaha meminimalisasi dengan melakukan aktivitas yang bisa membuatnya sibuk, seperti ketika ia masih aktif bekerja.
Menjadi pegiat sosial menjadi pilihan logis dengan harapan ia bisa terus berdaya dan bermanfaat bagi sesama. Sebelumnya, Ika lebih dulu merintis bisnis berlatar belakang hobinya.
Lantaran suka ngopi, Ika kemudian nekat membuat sebuah coffee shop di Jogja. Ia menyadari, untuk menjadi seorang entrepreneur tak cukup hanya memiliki modal, namun juga relasi dan kekuatan finansial. Dua Coffee shop kini dikelola langsung oleh Ika.
"Merintis bisnis seusai pensiun memang menjadi tantangan pribadi. Ternyata setelah dijalani, kekhawatiran bakal tak memiliki kesibukan sirna, malahan sekarang bisa dibilang sangat sibuk, mengelola bisnis sembari mengembangkan gerakan sosial melalui BBJ," ujar Ika.
Ika menyadari, menjadi seorang entrepreneur merupakan tantangan untuk dirinya terus berdaya, bisa memberi manfaat ke banyak orang melalui bisnis yang ia rintis. Bayang-bayang selama puluhan tahun menjadi pekerja kantoran perlahan mulai tergantikan dengan kesibukan kesibukan yang baru.
"Tadinya bayangan setelah pensiun bisa slowliv, ternyata setelah menjadi entrepreneur bisa sama sibuknya ketika dulu masih menjadi pekerja kantoran," imbuh Ika.
Hobi Ngopi dan Motret
Perempuan kelahiran Jakarta, 5 Oktober 1969 ini memilih ngopi dan motret sebagai kegiatan mengisi waktu senggang atau serupa yang disebut me time. Setiap hari, Ika menyempatkan ngopi sembari menikmati suasana pagi atau sore baik di rumah maupun tempat ngopi.
Kopi hitam tanpa gula menjadi pilihan Ika dengan mempertimbangkan efek baik bagi kesehatan tubuh. Selain ngopi, Ika juga memiliki hobi motret.
Rupanya, dalam hal memotret, Ika cenderung menyukai fotografi makro, yakni teknik fotografi yang mengambil gambar dari jarak dekat untuk memperbesar objek. Teknik ini menghasilkan foto yang detail dan terpusat pada objek yang dituju.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ika-inspiring.jpg)