Puisi
Makna Puisi Politisi Itu Adalah Karya W.S. Rendra
Puisi-puisi Rendra sering kali mencerminkan semangat perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap menindas.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM - W.S. Rendra, yang memiliki nama lengkap Willibrordus Surendra Broto Rendra, adalah seorang penyair, dramawan, aktor, dan sutradara teater ternama Indonesia.
Ia dikenal dengan julukan "Burung Merak" karena gaya hidup dan karya-karyanya yang nyentrik.
Puisi-puisi Rendra sering kali berisi kritik terhadap ketidakadilan sosial, korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan.
Ia menggunakan bahasa yang lugas dan tajam untuk menyampaikan pesan-pesannya.
Puisi-puisi Rendra sering kali mencerminkan semangat perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap menindas.
Hal ini Rendra tunjukan pada puisinya yang berjudul “Politisi Itu Adalah”.
Berikut isi dan makna puisi “Politisi Itu Adalah”:
Isi Puisi “Politisi Itu Adalah”
Para politisi berpakaian rapi.
Mereka turun dari mobil
langsung tersenyum
atau melambaikan tangan.
Di muka kamera televisi
mereka mengatakan
bahwa pada umumnya keadaan baik,
kecuali adanya unsur-unsur gelap
yang direkayasa oleh lawan mereka.
Dan mereka juga mengatakan
bahwa mereka akan memimpin bangsa
ke arah persatuan dan kemajuan.
"Kuman di seberang lautan tampak.
Gajah di pelupuk mata tak tampak."
Itu kata rakyat jelata.
Tapi para politisi berkata:
"Kuman di seberang lautan harus tampak,
Gajah di pelupuk mata ditembak saja,
sebab ia mengganggu pemandangan."
Ada orang memakai topi.
Ada orang memakai peci.
Ada yang memakai dasi.
Ada pula yang berbedak dan bergincu.
Kalau sedang berkaca
menikmati diri sendiri
para politisi suka memakai semuanya itu.
Semua politisi mencintai rakyat.
Di hari libur mereka pergi ke Amerika
dan mereka berkata
bahwa mereka adalah penyambung lidah rakyat.
Kadang-kadang mereka anti demokrasi.
Kadang-kadang mereka menggerakkan demonstrasi.
Dan kalau ada demonstran yang mati ditembaki,
mereka berkata: itulah pengorbanan
yang lumrah terjadi di setiap perjuangan.
Lalu ia mengirim karangan bunga
dan mengucapkan pernyataan dukacita.
Para politisi suka hari cerah,
suka khalayak ramai,
dan bendera-bendera.
Lalu mereka akan berkata:
"Kaum oposisi harus bersatu
menggalang kekuatan demi perjuangan.
Dan sayalah yang memimpin kalian."
Ada orang suka nasi.
Ada orang suka roti.
Tapi politisi akan makan apa saja
asal sambil makan ia duduk di singgasana.
Memang tanpa mereka
tak akan ada negara
Jadi terpaksa ada Hitler,
Netanyahu, Amangkurat II,
Stalin, Marcos, dan sebagainya.
Yah, kalau melihat Indonesia dewasa ini,
para mahasiswa dibunuh mati,
dan lalu
politisi hanya tahu kekuasaan tanpa diplomasi,
sedang massa tanpa daulat pribadi,
maka politik menjadi martabak atau lumpia.
Lalu ada politisi berkata kepada saya:
"Mas Willy, sajakmu seperti prosa.
Tidak mengandung harapan,
tidak mengandung misteri.
Cobalah mengarang tentang pemandangan alam
dan misteri embun di atas kelopak melati."
Sampai di sini
puisi ini saya sudahi.
Makna Puisi “Politisi Itu Adalah”
Puisi ini secara satir menggambarkan realitas politik yang seringkali jauh dari ideal, menyoroti inkonsistensi, hipokrisi, dan kesenjangan antara retorika politisi dengan kenyataan yang dihadapi rakyat.
Politisi digambarkan sebagai sosok yang pandai bersandiwara, pandai berorasi, dan pandai memanfaatkan media untuk membangun citra positif.
Mereka seringkali menggunakan retorika yang manis untuk menutupi kelemahan dan kesalahan mereka.
Mereka juga digambarkan sebagai sosok yang gemar berpenampilan mewah dan menikmati kekuasaan.
Puisi ini menyoroti kesenjangan antara pandangan politisi dan rakyat jelata.
Politisi seringkali mengabaikan masalah-masalah yang dihadapi rakyat, dan lebih fokus pada kepentingan pribadi atau golongan.
Peribahasa "Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak" digunakan untuk menggambarkan sikap politisi yang lebih fokus pada masalah-masalah kecil di luar negeri, daripada masalah-masalah besar di dalam negeri.
Politisi digambarkan sebagai sosok yang inkonsisten dan hipokrit.
Mereka seringkali mengubah pandangan dan tindakan mereka sesuai dengan kepentingan politik mereka.
Mereka juga seringkali menggunakan retorika yang bertentangan dengan tindakan mereka.
Puisi ini secara implisit mengkritik sistem politik yang memungkinkan politisi untuk berkuasa tanpa akuntabilitas.
Puisi ini juga mengkritik budaya politik yang korup dan manipulatif.
Puisi ini mencerminkan kekecewaan penyair terhadap kondisi negara, di mana mahasiswa dibunuh dan politisi hanya fokus pada kekuasaan.
Perumpamaan "politik menjadi martabak atau lumpia" menggambarkan betapa politik telah kehilangan esensi dan hanya menjadi komoditas.
Penyair digambarkan sebagai sosok yang skeptis dan kritis terhadap politik.
Penyair memilih untuk menyuarakan ketidakpuasannya melalui puisi, meskipun ia tahu bahwa suaranya mungkin tidak akan didengar. (MG Ni Komang Putri Sawitri Ratna Duhita)
| 15 Contoh Puisi Hari Ibu 22 Desember yang Menyentuh Hati dan Penuh Makna |
|
|---|
| 5 Contoh Puisi Tema Tentang Indahnya Toleransi , Perbedaan Menjadi Kedamaian |
|
|---|
| 3 Contoh Puisi Tema Tentang Rindu Sahabat yang Meniti Karir di Luar Negeri |
|
|---|
| 3 Contoh Puisi Tema Tentang Kesendirian dan Kesepian di Tengah Hiruk Pikuk Kota |
|
|---|
| 5 CONTOH Puisi Romantis yang Dijamin Bikin Si Dia Makin Jatuh Hati Padamu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/WS-Rendra.jpg)