Puisi

4 Puisi Bertema Ikhlas Karya Penyair Terkenal Indonesia

Puisi dapat menunjukkan bagaimana sabar dapat menjadi kekuatan untuk mengatasi rintangan dan menemukan makna dalam penderitaan.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
bola.com
semangat menjalankan hidup dengan membaca puisi ini 

TRIBUNJOGJA.COM - Puisi sering menggunakan metafora dan simbolisme untuk menggambarkan konsep sabar. 

Simbol-simbol ini memungkinkan pembaca untuk merenungkan makna sabar secara mendalam dan menghubungkannya dengan pengalaman hidup mereka sendiri. 

Banyak puisi mencerminkan pengalaman manusia dalam menghadapi kesulitan dan tantangan hidup.

Puisi dapat menunjukkan bagaimana sabar dapat menjadi kekuatan untuk mengatasi rintangan dan menemukan makna dalam penderitaan.

Beriktu puisi-puisi bertema sabar karya penyair terkenal Indonesia: 

1. Kolam - D. Zawawi Imron

Kutunjukkan padamu sebuah kolam

hai, jangan tergesa engkau menyelam!

Di situ sedang mekar setangkai kata

yang para pendeta tak tahu maknanya.

 

Dari manakah seekor capung yang biru itu?

Ia datang tanpa salam dan pergi tanpa pamitan

tapi ekornya

jelas menuding pusat keheningan.

 

Ketika langit jadi gulita

senandung malam makin mendasar

dari kolam itu tumbuh keikhlasan

mengajarkan sujud yang paling tunjam.

2. Aku Rindu pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja - Taufiq Ismail

Dua hari aku duduk di tribun sebelah kanan, di jejang atas,

bagai  menyaksikan sebuah pentas.

Dua hari aku memasang gendang telinga dan menyimak,

menggali kembali  ingatan pada Agresi Kedua, 1948 tahunnya.


Aku berenang di antara arus kertas kerja, penelitian, bibliografi  dan  wawancara,

aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan,

kurasa sudah kukenal anatomi dan fisikologi sukmamu wahai sejarah,

tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja.

 

Inilah kesempatan emas bagiku dari atas tribun itu,

menatap sosok-sosok  pemeran drama 40-an tahun yang silam,

mereka yang mendirikan  negeriku ini,

mereka dahulu cendekia-cendekia sangat belia,

pemuda-pemuda yang memahat sebuah negara,

remaja-remaja yang  baru belajar menggenggam laras senjata,

operator radio dalam rimba  raya,

diplomat-diplomat tanpa sertifikat,

pelaut tiada armada,

penerbang yang merindukan sayap-sayap,

para pemberani yang tabah

menghadapi segala kemuskilan dalam beribu format.

Aku bayangkan mereka dulu berbadan kurus-kurus,

sudut tulang rahang jelas  kelihatan,

berambut hitam lebat,

memakai pomade yang lengket,

dan  aku ingat betul

mereka bercelana panjang model kedomrangan.

 

Mereka semuanya berani tapi bersikap bersahaja,

mereka tidak memikirkan  uang  dan materi

tapi merenungkan dan memperjuangnkan pikiran  serta ide.

Aku terkenang pada sahabat-sahabat mereka yang tidak dapat hadir di ruangan  ini

karena mereka telah lebih dahulu memenuhi panggilan Ilahi,

begitu pula kuingat beribu-ibu manusia Indonesia lain pada zaman  itu

yang dengan ikhlas memberikan nyawa mereka

ketika  memerdekakan Nusantara,

Mari kita tundukkan kepala sejenak,

pejamkan mata beberapa detik,

dan kita  bacakan Al-Fatihah untuk mereka.

Ada suara lalu-lintas Jakarta gemuruh di balik gedung ini,

dan terbayang  di mataku berjuta sosok yang tak kita kenal raut wajahnya,

tak  kita ketahui dimana adresnya,

mereka itu dulu telah melepas  gelang, berlian, kalung, cincin

dam memecah tabungan,

mereka  itu yang membelikan senjata

dan pesawat terbang untuk  perang kemerdekaan.

Aku tak pernah tahu nama mereka,

aku tak pernah melihat wajah  mereka

di harian pagi dan sore ibukota,

tidak dalam direktori  Apa Siapa,

di televisi tak pula muncul dalam acara wawancara,

apalagi masuk dalam  buku teks sejarah,

baik sejarah resmi versi  yang berkuasa

maupun versi pertikelir atawa swasta.

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keihklasan

yang jadi kerangka  semuanya ini?

Mengapa bisa berjuta-juta merionet menari

dan  melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan

yang sedemikian  ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan

di atas  panggung histori,

50, 100, 200 tahun atau lebih waktu  pementasannya,

lalu para sejarawan sibuk mencatat dan  menganalisanya,

tapi dapatkah mereka menjawabnya?


Aku saksikan kepala-kepala mereka

yang cendekia menggeleng perlahan- lahan.

“Yang bisa dengan rasa pasti menjawab,” kata Taufiq  Abdullah,

“sebenarnya tahu sedikit saja,”

Sehabis masa yang dua hari itu,  inilah yang kurindukan:

suara zaman  yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan,

suatu  zaman dimana kecambah ide dan lalu lintas pikiran

disenandungkan dengan nada berbeda-beda

tanpa ditekan  harus sama semua ukuran panjang,  lebar dan warnanya,

zaman  ketika senyum yang nampak tidak dipasang

pada topeng  panggung pementasan,

zaman di mana sikap bersahaja  diperebutkan.


3. Sebelum Keduanya Ikhlas Kita Lepaskan - Hasan Aspahani

DAN kita pun kelak bisu, karena tiba-tiba saja ada sayap di bibirmu dan bibirku.

Lihat mereka terbang dan abadi berkecupan di langit itu.

DAN kita pun kelak buta, sebab mataku dan matamu menjadi awan menebalkan langit dengan mendung.

Hujan keabadian.

Kita sepasang kekasih buta

Dan bisu.

Tanganku mencari tanganmu.

Sebelum keduanya pun ikhlas kita lepaskan

Dari basah tubuh kehujanan.

 


4. Catatan Ciganjur Tembang Hati yang Peduli - Diah Hadaning

Yang ngalir dari arah mata angin

yang menggenang dari lubuk mata air

tembang hati yang peduli

tembang rasa yang mengerti

bagi yang lama terdera

di pelosok negeri.

 


Harapan dari sisa kenyataan

lama diterpa prahara kehidupan

pungutilah wahai

insan yang diberkahi ketulusan

orang-orang lama menunggu

ikrar prasetiamu itu.

 


Luka sudah menganga

darah sudah tertumpah

kampus sering ditinggalkan.

 


Diikhlaskan sambil cari genggammu

diikhlaskan sambil cari suaramu

lembutkanlah keangkuhan yang batu. (MG Ni Komang Putri Sawitri Ratna Duhita) 

 

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved