Puisi

10 Puisi Terbaik Karya Seno Gumira Ajidarma

Karya-karyanya seringkali mengandung kritik sosial dan politik, menggunakan bahasa yang puitis dan metaforis dan sering mengangkat tema-tema tentang k

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
tribunnews.com
Seno Gumira Ajidarma Puisi 

TRIBUNJOGJA.COM - Seno Gumira Ajidarma adalah seorang penulis, jurnalis, fotografer, kritikus film, dan dosen di Indonesia. 

Ia dikenal luas melalui karya-karyanya yang kritis dan puitis, terutama cerpen-cerpennya yang seringkali mengangkat tema-tema sosial dan politik.

Beberapa karyanya yang terkenal antara lain "Saksi Mata", "Penembak Misterius", "Sepotong Senja untuk Pacarku", dan "Negeri Senja".

Karya-karyanya seringkali mengandung kritik sosial dan politik, menggunakan bahasa yang puitis dan metaforis dan sering mengangkat tema-tema tentang kemanusiaan dan keadilan.

Berikut puisi-puisi terbaik karya Seno Gumira Ajidarma


1. Pagi Itu 

Pagi itu aku terkejut waktu

bangun tidur kujumpai karang bunga

ikut berduka dengan namaku pada kertasnya.


Dan aku semakin terkejut saat

tengkukku menjadi dingin dan aku

seakan dilemparkan oleh kekuatan yang

luar biasa ke ruang angkasa tanpa bintang.


2. Langit Sepi

Langit sepi

tiga burung hitam merendah menggoda ombak

orang-orang yang berbondong ke pantai

mungkin mencari saudaranya yang lenyap di seberang angin.


3. Hari Ini Seperti Juga Kemarin

Hari ini seperti juga kemarin

tak lagi terbandingkan, antara nasib antara sepi

kemudian rawan, jatuh di bumi

lantas seperti kemarin-kemarin: matahari pagi.


4. Catatan

Si bocah berjongkok dan menangis

memandang buih lautan: akukah kau cari?

Suara-suara samodra menggoda manja.


Si bocah menangis semakin keras

dan senja mengendap, matahari berbisik

: akulah ibumu.


5. Senja Dan Sajak Cinta 

Langit muram, kau pun tahu

angin menyapu musim, gerimis melintas

pada senja selintas, aku tak tahu

masihkah ketemu malamku.


Kamu adalah mimpi itu, siapa tahu

dalam jejak senyap semalam

menatap hujan,

tiada bertanya sedu atau sedan.


6. Detak 

pagi berdetak mengejar malamnya

arloji berdetak mengejar waktunya

pohon berdetak mengejar buahnya

sungai berdetak mengejar lautnya

siapa berdetak mengejar matinya


7. Pagi 

Tentang kabut, embun dan rumput

Tentang timur, angin dan matahari

Tentang desir, desau dan asap.


Kemarin baru saja kau katakan

: kita terlalu banyak bicara

tentang soal-soal yang

mengusik tidur kita.

 

8. Di balik pintu kuning berdebu

Di balik pintu kuning berdebu

terdengar suara langkah makin mendekat

sementara aku berjalan ke arah pintu

tiba-tiba terdengar detak-detak jantungku

seperti suara langkah yang makin menjauh

di balik pintu kuning berdebu.

 

9. Sumur 

Aku melihat bahwa ada seseorang yang ingin

sekali merayapi dinding-dinding sumur dan naik

ke atas bumi yang belum pernah dikenalnya.


Ia ingin sekali aku menjenguk ke dalam sumur

lama-lama, sementara ia bisa menatap langit

sepuas-puasnya.


10. Dua Gadis Cilik 

Dua gadis cilik

mati terlindas di dekat pasar

sedikit darah terciprat

pada celana kuli yang tak punya anak. (MG Ni Komang Putri Sawitri Ratna Duhita) 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved