Puisi
Arti dan Makna Puisi “Di Masjid” karya Chairil Anwar
Puisi "Di Masjid" karya Chairil Anwar menggambarkan pergulatan batin yang intens antara manusia dengan Tuhannya, di tengah kesunyian dan kekhusyukan m
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM - Chairil Anwar merupakan seorang penyair yang terkenal dengan puisi-puisi indahnya.
Selain menulis tentang puisi-puisi cinta, Chairil Anwar juga menulis puisi-puisi bertema religi.
Salah satu puisi Chairil Anwar yang bertema religi adalah puisi berjudul “Di Masjid”
Puisi "Di Masjid" karya Chairil Anwar menggambarkan pergulatan batin yang intens antara manusia dengan Tuhannya, di tengah kesunyian dan kekhusyukan masjid.
Puisi ini menggambarkan hubungan yang dinamis dan penuh gejolak antara manusia dengan Tuhan serta menunjukkan bahwa ibadah bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga perjuangan batin yang mendalam.
Puisi ini memberikan kesan tentang sebuah hubungan yang sangat kuat, antara seorang manusia dengan Tuhannya, walaupun manusia tersebut merasa sangat tidak berdaya.
Berikut isi dan makna puisi “Di Masjid”:
Isi Puisi “Di Masjid”
Kuseru saja Dia
Sehingga datang juga
Kamipun bermuka-muka
Seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada
Segala daya memadamkannya
Bersimpuh peluh diri yang tak bisa diperkuda
Ini ruang
Gelanggang kami berperang
Binasa-membinasa
Satu menista lain gila
Arti dan Makna Puisi “Di Masjid”
Bait 1
Kuseru saja Dia
Sehingga datang juga
Kamipun bermuka-muka
Seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada
Segala daya memadamkannya
Bait ini menggambarkan upaya manusia untuk memanggil Tuhan melalui doa.
"Bermuka-muka" melambangkan pertemuan langsung atau kedekatan spiritual dengan Tuhan.
"Bernyala-nyala dalam dada" dapat diartikan sebagai kehadiran Tuhan yang kuat dalam hati, yang tidak bisa dipadamkan oleh usaha manusia.
Bait 2
Bersimpuh peluh diri yang tak bisa diperkuda
Ini ruang
Gelanggang kami berperang
Binasa-membinasa
Satu menista lain gila
Bait ini menggambarkan perjuangan manusia dalam menundukkan diri di hadapan Tuhan.
"Bersimpuh peluh diri yang tak bisa diperkuda" melambangkan usaha yang sangat keras.
"Gelanggang kami berperang" melambangkan pergulatan batin antara manusia dengan Tuhannya, atau antara manusia dengan dirinya sendiri.
"Binasa-membinasa" dan "Satu menista lain gila" melambangkan konflik yang intens dan mendalam. (MG Ni Komang Putri Sawitri Ratna Duhita)
| 15 Contoh Puisi Hari Ibu 22 Desember yang Menyentuh Hati dan Penuh Makna |
|
|---|
| 5 Contoh Puisi Tema Tentang Indahnya Toleransi , Perbedaan Menjadi Kedamaian |
|
|---|
| 3 Contoh Puisi Tema Tentang Rindu Sahabat yang Meniti Karir di Luar Negeri |
|
|---|
| 3 Contoh Puisi Tema Tentang Kesendirian dan Kesepian di Tengah Hiruk Pikuk Kota |
|
|---|
| 5 CONTOH Puisi Romantis yang Dijamin Bikin Si Dia Makin Jatuh Hati Padamu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/chairil.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.