Puisi
Arti dan Makna Puisi “Padamu Jua” Karya Amir Hamzah
Puisi ini menyiratkan cinta yang penuh ketidaksempurnaan, di mana kebahagiaan dan rasa sakit bercampur menjadi satu.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM - Amir Hamzah adalah seorang sastrawan Indonesia yang telah menghasilkan banyak karya sastra, seperti puisi, artikel, prosa lirik, dan buku.
Dalam berkarya, Amir Hamzah menuliskan karyanya dengan bahasa yang indah.
Salah satu karya sastra yang paling banyak ia hasilkan adalah puisi.
Puisi yang ia buat tidak hanya bertema tentang percintaan, melainkan juga tentang kehidupan dan nilai-nilai dalam diri manusia.
Salah satu puisi Amir Hamzah yang bertema tentang kehidupan dan keagamaan adalah puisi “Padamu Jua”
Puisi ini menyiratkan cinta yang penuh ketidaksempurnaan, di mana kebahagiaan dan rasa sakit bercampur menjadi satu.
Ada kerinduan yang kuat, namun juga ada luka dan kepasrahan dalam menjalani hubungan yang rumit.
Puisi ini secara tidak langsung merupakan gambaran monolog seorang hamba Tuhan dengan perasaan-perasaannya.
Berikut isi dan makna puisi “Padamu Jua”:
Isi Puisi “Padamu Jua”
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia, selalu
Satu kasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa darah dibalik tirai
Kasihku sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu—bukan giliranku
Mati hari—bukan kawanku
Arti dan Makna Puisi “Padamu Jua”
Bait 1
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Bait ini menggambarkan perasaan cinta yang terkikis habis.
Namun pada akhirnya, penulis tetap kembali kepada orang yang dicintai, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Ini menunjukkan adanya ketergantungan emosional yang kuat, meskipun telah merasakan sakit hati.
Bait 2
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia, selalu
Orang yang dicintai digambarkan sebagai sumber cahaya dan harapan dalam kegelapan.
Kata-kata "sabar, setia, selalu" menunjukkan bahwa seseorang ini selalu ada dan memberikan dukungan, meskipun dalam situasi yang sulit.
Bait 3
Satu kasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Penulis mengungkapkan bahwa ia hanya memiliki satu cinta, dan ia adalah manusia dengan segala kerinduan dan keinginan.
Bait ini menekankan bahwa penulis merindukan kehadiran fisik dan emosional dari orang yang dicintai.
Bait 4
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Bait ini menggambarkan perasaan kehilangan dan ketidakpastian.
Penulis tidak tahu di mana orang yang dicintai berada, dan hanya bisa mengenang kata-katanya yang masih terngiang di hati.
Bait 5
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Bait ini mengungkapkan sisi gelap dari hubungan tersebut.
Orang yang dicintai digambarkan sebagai sosok yang cemburu dan posesif, bahkan menyakiti penulis.
Hubungan ini digambarkan seperti permainan "tangkap dan lepas", di mana penulis merasa tidak aman dan selalu dalam ketegangan.
Bait 6
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa darah dibalik tirai
Penulis merasa putus asa dan kehilangan arah ("nanar aku, gila sasar").
Namun tetap mencintai orang tersebut.
Kata-kata "pelik menarik ingin" menunjukkan bahwa orang yang dicintai memiliki daya tarik yang kuat, meskipun menyakitkan.
Frase "serupa darah dibalik tirai" menggambarkan bahwa cinta ini tersembunyi dan tidak jelas, namun tetap terasa menyakitkan.
Bait 7
Kasihku sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu—bukan giliranku
Mati hari—bukan kawanku
Bait terakhir ini menggambarkan kesepian dan kepasrahan.
Penulis merasa sendirian dalam penantian, dan waktu seolah berjalan tanpa berpihak padanya.
Frase "mati hari—bukan kawanku" menunjukkan bahwa penulis merasa tidak memiliki harapan dan masa depan. (MG Ni Komang Putri Sawitri Ratna Duhita)
| 15 Contoh Puisi Hari Ibu 22 Desember yang Menyentuh Hati dan Penuh Makna |
|
|---|
| 5 Contoh Puisi Tema Tentang Indahnya Toleransi , Perbedaan Menjadi Kedamaian |
|
|---|
| 3 Contoh Puisi Tema Tentang Rindu Sahabat yang Meniti Karir di Luar Negeri |
|
|---|
| 3 Contoh Puisi Tema Tentang Kesendirian dan Kesepian di Tengah Hiruk Pikuk Kota |
|
|---|
| 5 CONTOH Puisi Romantis yang Dijamin Bikin Si Dia Makin Jatuh Hati Padamu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Amir-Hamzah.jpg)