Puisi

11 Puisi Cinta Chairil Anwar: Ungkapan Berbunga-Bunga hingga Mati Rasa 

Oleh karena itu, puisi menjadi sarana terbaik untuk mengungkapkan perasaan-perasaan cinta yang dimiliki manusia. 

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Tribunnews.com
Chairil Anwar sang penyair terkemuka berasal dari Indonesia 

TRIBUNJOGJA.COM - Puisi merupakan salah satu karya sastra yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan. 

Sebagai makhluk hidup yang berpasangan, manusia tak pernah lepas dari sebuah hal bernama cinta. 

Perasaan bahagia maupun sedih akan selalu dimiliki oleh setiap manusia yang berpasangan. 

Hal itu tak selalu bisa diungkapkan secara langsung kepada siapapun. 

Oleh karena itu, puisi menjadi sarana terbaik untuk mengungkapkan perasaan-perasaan cinta yang dimiliki manusia. 

Jika kamu sedang mengalami hal yang sama, berikut ini terdapat puisi-puisi Chairil Anwar yang berisi ungkapan cinta dari perasaan yang berbahagia dan bersedih. 

  1. Taman 

Taman punya kita berdua

tak lebar luas, kecil saja

satu tak kehilangan lain dalamnya.

Bagi kau dan aku cukuplah

Taman kembangnya tak berpuluh warna

Padang rumputnya tak berbanding permadani

halus lembut dipijak kaki.

bagi kita bukan halangan.

Karena

dalam taman punya berdua

Kau kembang, aku kumbang

aku kumbang, kau kembang

Kecil, penuh surya taman kita

Tempat merenggut dari dunia dan 'nusia.


2. Sajak Putih 

Bersandar pada tari warna pelangi

Kau depanku bertudung sutra senja

Di hitam matamu kembang mawar dan melati

Harum rambutmu mengalun bergelut senda

 


Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba

Meriak muka air kolam jiwa

Dan dalam dadaku memerdu lagu

Menarik menari seluruh aku

 


Hidup dari hidupku, pintu terbuka

Selama matamu bagiku menengadah

Selama kau darah mengalir dari luka

Antara kita Mati datang tidak membelah....


3. Cintaku Jauh di Pulau 

Cintaku jauh di pulau,

gadis manis, sekarang iseng sendiri.

 

Perahu melancar, bulan memancar,

di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.

angin membantu, laut terang, tapi terasa

aku tidak 'kan sampai padanya.

 


Di air yang tenang, di angin mendayu,

di perasaan penghabisan segala melaju

Ajal bertakhta, sambil berkata:

"Tujukan perahu ke pangkuanku saja."

 


Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!

Perahu yang bersama 'kan merapuh!

Mengapa Ajal memanggil dulu

Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

 


Manisku jauh di pulau,

Kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

 

 

4. Pemberian Tahu 

Bukan maksudku mau berbagi nasib,

nasib adalah kesunyian masing-masing.

Kupilih kau dari yang banyak, tapi

sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.

Aku pernah ingin benar padamu,

Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,


Kita berpeluk ciuman tidak jemu,

Rasa tak sanggup kau kulepaskan.

Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,

Aku memang tidak bisa lama bersama

Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama!


5. Puncak 

Minggu pagi di sini. Kekerasan ramai kota yang terbawa

tambah penjoal dalam diri — diputar atau memutar — 

terasa tertekan; kita berbaring bulat telanjang

Sehabis apa terucap di kelam tadi, kita habis kata sekarang.

Berada 200 m. jauh dari muka laut, silang siur pelabuhan,

jadi terserahlah pada perbandingan dengan

cemara bersih hijau, kali yang bersih hijau


Maka cintaku sayang, kucoba menjabat tanganmu

mendekap wajahmu yang asing, meraih bibirmu di balik rupa.

Kau terlompat dari ranjang, lari ke tingkap yang

masih mengandung kabut, dan kau lihat di sana, bahwa antara

cemara bersih hijau dan kali gunung bersih hijau

mengembang juga tanya dulu, tanya lama, tanya.


6. Sia-sia 

Penghabisan kali itu kau datang

membawa karangan kembang

Mawar merah dan melati putih:

darah dan suci.

Kau tebarkan depanku

serta pandang yang memastikan: Untukmu.

 


Sudah itu kita sama termangu

Saling bertanya: Apakah ini?

Cinta? Keduanya tak mengerti.

 


Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

 


Ah! Hatiku yang tak mau memberi

Mampus kau dikoyak-koyak sepi.


7. Tak Sepadan 

Aku kira:

Beginilah nanti jadinya

Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasvéros.

 


Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak satu juga pintu terbuka.

 


Jadi baik juga kita padami

Unggunan api ini

Karena kau tidak 'kan apa-apa

Aku terpanggang tinggal rangka.


8. Lagu Biasa 

Di teras rumah makan kami kini berhadapan

Baru berkenalan. Cuma berpandangan

Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam


Masih saja berpandangan

Dalam lakon pertama

Orkes meningkah dengan "Carmen" pula.


Ia mengerling. Ia ketawa

Dan rumput kering terus menyala

Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi

Darahku terhenti berlari


Ketika orkes memulai "Ave Maria"

Kuseret ia ke sana....


9. Kupu Malam dan Biniku 

Sambil berselisih lalu

mengebu debu.


Kupercepat langkah. Tak noleh ke belakang

Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang


Barah ternganga


Melayang ingatan ke biniku

Lautan yang belum terduga

Biar lebih kami tujuh tahun bersatu


Barangkali tak setahuku

Ia menipuku.


10. Bercerai 

Kita musti bercerai

Sebelum kicau murai berderai.


Terlalu kita minta pada malam ini.


Benar belum puas serah-menyerah

Darah masih berbusah-busah.


Terlalu kita minta pada malam ini. 


Kita musti bercerai

Biar surya 'kan menembus oleh malam di perisai


Dua benua bakal bentur-membentur.

Merah kesumba jadi putih kapur.


Bagaimana?

Kalau IDA, mau turut mengabur

Tidak samudra caya tempatmu menghambur.


11. Mulutmu Mencubit di Mulutku 

Mulutmu mencubit di mulutku

Menggelegak benci sejenak itu

Mengapa merihmu tak kucekik pula

Ketika halus-pedih kau meluka?? (MG Ni Komang Putri Sawitri Ratna Duhita) 

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved