Distribusi Gas Melon di DIY Terjaga Lancar, Pemda Pastikan Stok dan Harga Stabil

Pemda DIY menegaskan komitmennya untuk menjaga kelancaran distribusi dan harga LPG 3 kg (gas melon) yang tetap terjangkau oleh masyarakat. 

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM
DISTRIBUSI GAS: Foto dok warga tengah mengantre tabung gas elpiji tiga kilogram di SPBU Banar di Dusun Banar, Mungkid, Magelang, Senin (6/11/2017). Pemda DIY berkomitmen menjaga pasokan gas melon tetap lancar, Rabu (5/2/2025). 

TRIBUNJOGJA.COM - Pemerintah Daerah (Pemda) DIY melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY menegaskan komitmennya untuk menjaga kelancaran distribusi dan harga LPG 3 kg (gas melon) yang tetap terjangkau oleh masyarakat. 

Hal ini disampaikan di tengah kekhawatiran munculnya panik buying terkait perubahan kebijakan distribusi gas bersubsidi oleh Pemerintah Pusat.

Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, mengatakan pihaknya masih menunggu arahan resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait kebijakan baru penjualan gas bersubsidi yang dapat berdampak pada mekanisme distribusi. 

Namun, hingga saat ini, dia memastikan bahwa stok gas melon di DIY masih mencukupi dan harga di pangkalan tetap sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan, yakni Rp 18.000 per tabung.

"Sampai saat ini, distribusi dan stok gas melon di DIY dalam kondisi yang sangat stabil. Kami memastikan harga tetap sesuai dengan ketentuan HET yang berlaku," ungkap Yuna.

Pantauan Disperindag DIY menunjukkan bahwa di wilayah Kota Yogyakarta, seperti di Gondosuli, Sidikan, dan Wirogunan, harga gas melon masih stabil pada angka Rp 18.000 per tabung dan ketersediaan stok pun tidak terganggu.

Begitu pula di Gunungkidul, meskipun terjadi peningkatan permintaan pasca-pengumuman kebijakan baru, distribusi LPG 3 kg tetap berjalan lancar, bahkan pada hari libur sekalipun.

Yuna juga menanggapi isu pengecer yang sempat panic buying pada awal Februari, saat mendengar kabar bahwa pengecer tidak lagi boleh menjual gas melon.

Menurutnya, fenomena tersebut hanya bersifat sementara dan tidak mempengaruhi kestabilan distribusi secara keseluruhan.

"Jumlah pengecer gas melon memang banyak, dan mereka memiliki kesempatan untuk menjadi pangkalan apabila memenuhi syarat seperti memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan modal yang cukup," jelas Yuna.

Sebagai informasi, Hiswana Migas DIY, yang merupakan asosiasi agen LPG 3 kg di DIY, mengungkapkan bahwa kuota LPG 3 kg di wilayah tersebut mencapai 165 ribu tabung per hari. 

Ketua Bidang LPG Hiswana Migas DIY, Iwan Setiawan, menjelaskan bahwa distribusi gas melon di DIY dikelola oleh 104 agen yang mendistribusikan gas ke sekitar 7.500 pangkalan di seluruh DIY.

Iwan memastikan bahwa pengiriman LPG 3 kg masih sesuai dengan kuota yang telah ditetapkan dan tidak ada pengurangan pasokan ke pangkalan.

"Stok gas melon masih mencukupi, dan pengiriman tetap berjalan lancar. Meskipun ada sedikit lonjakan permintaan akibat panic buying di beberapa daerah, kami terus berkoordinasi dengan Pemda DIY dan Pertamina untuk memastikan distribusi tetap normal," tambah Iwan.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, sebelumnya mengungkapkan bahwa kebijakan pembatasan pengecer bertujuan untuk mengendalikan lonjakan harga LPG 3 kg di tingkat pengecer.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved