Pakar UGM Beri Tips Kenali Tanda-tanda Wilayah Rawan Longsor
Penyebab utama dari kejadian tanah longsor ini, menurut akademisi, dipengaruhi curah hujan dengan intensitas sangat tinggi.
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pakar Ilmu Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan tips mengenali tanda-tanda wilayah rawan longsor.
Hal ini menyusul banyaknya wilayah di tanah air yang mengalami longsor akibat hujan deras yang berlangsung lama.
Penyebab utama dari kejadian tanah longsor ini, menurut akademisi, dipengaruhi curah hujan dengan intensitas sangat tinggi.
Mengacu pada data hujan dari satelit diperkiraan telah terjadi hujan beberapa hari sebelum kejadian longsor dengan intensitas hujan ada yang mencapai 93 mm/hari.
Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa curah hujan 30 mm per hari atau 63 mm per tiga hari bisa memicu longsor di Pulau Jawa.
Kondisi lingkungan juga memiliki kemungkinan berpengaruh terhadap kejadian longsor ini seperti perubahan fungsi lahan.
Dosen Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Prof Wahyu Wilopo, mengatakan kejadian bencana longsor di Pekalongan ini ini mengingatkan semua pihak tentang pentingnya melakukan kegiatan mitigasi khususnya pada bencana yang dipicu oleh kondisi hidrometeorologi seperti longsor, banjir ataupun angin ribut yang dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan.
“Jumlah dan dampaknya makin meningkat akibat dipicu adanya perubahan iklim global,” kata Wahyu, Jumat (31/1/2025).
Soal penyebab kejadian longsor ini, diakui Wahyu Wilopo akibat lokasinya yang berada di kaki lereng juga dijumpai morfologi kipas kolovial (Sedimen lepas) dengan kemiringan lereng yang cukup terjal dan material yang agak lepas.
“Batuan yang menyusun Petungkriyono adalah batuan vulkanik dan juga endapan hasil runtuhan pada masa lampau yang terdiri dari lempung sampai bongkah,” katanya.
Baca juga: Diguyur Hujan Deras, Talud Jalan Setinggi 4 Meter di Tirtomartani Sleman Longsor
Ia menjelaskan, struktur geologi di daerah ini ditemukan beberapa patahan baik patahan normal maupun geser.
“Kondisi ini mempercepat proses pelapukan yang ada sehingga membentuk endapan tanah yang tebal pada beberapa tempat,” ungkap Wahyu.
Bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor, Wahyu menyampaikan ada beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk menyelamatkan diri yaitu dengan mengenali dan memahami risiko yang ada di sekitar, baik untuk warga asli ataupun warga pendatang.
Kemudian melakukan identifikasi daerah yang aman dan tidak terisolasi, jalur yang paling aman, dan terpendek menuju lokasi tersebut.
“Apabila terjadi tanda-tanda longsor ataupun hujan tidak deras tetapi berlangsung cukup lama sebaiknya bisa melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang aman dan apabila akan berteduh atau berhenti istirahat pilihlah tempat yang aman dari potensi kejadian longsor,” jelasnya.
| Ada Bayang-bayang Fenomena Politisasi Koperasi di Kopdes Merah Putih, Ini Penjelasan Pakar UGM |
|
|---|
| Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Dibayar APBN, Pakar UGM: Tambah Beban Fiskal-Moral Hazard |
|
|---|
| Pakar UGM Sebut War Tiket Haji Tidak Bisa Langsung Dilakukan, Tunggu Antrean Selesai |
|
|---|
| Tanjakan Clongop Kembali Longsor, Batu Seukuran Mobil Tutupi Badan Jalan Utama Gedangsari-Klaten |
|
|---|
| Pakar Geopolitik UGM soal Prabowo Jadi Mediator: Syarat Harus Netral, Indonesia Sudah Masuk BoP |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kejadian-Tanah-Longsor-di-Gunungkidul-Satu-Rumah-Warga-Rusak-Tertimpa-Material.jpg)