Dapur MBG Diminta Pilah Sampah, DLH Sleman Siapkan Skema Pengolahan

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman tengah memitigasi jumlah sampah yang dihasilkan untuk menyiapkan skema pengolahan.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
Ilustrasi Tempat sampah 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sudah digulirkan Pemerintah di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait timbunan sampah organik dari sisa makanan.

Saat ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman tengah memitigasi jumlah sampah yang dihasilkan untuk menyiapkan skema pengolahan.

Sembari menunggu skema disusun, dapur diminta agar memilah sampahnya. 

"Saya sudah berkoordinasi dengan dapur ya, kami minta itu terpilah antara sampah sisa makanan, sampah sisa sayuran dan buah. Kemudian sampah kardus dan plastik juga harus terpilah. Jangan disatukan. Kalau itu disatukan, nanti sulit mengolahnya," kata Kepala DLH Kabupaten Sleman, Epiphana Kristiyani, Jumat (17/1/2025). 

Pihaknya mengaku sudah menjalin komunikasi dan mendapatkan data dari dapur umum yang melaksanakan program MBG di Kabupaten Sleman.

Namun data tersebut baru jumlah timbunan sampah untuk 1.000 porsi. Padahal satu dapur, jika program sudah berjalan normal, diestimasikan sanggup memproduksi hingga 3.000 porsi. 

Sebab itu, pihaknya akan melihat terlebih dahulu jumlah timbunan sampah yang dihasilkan ketika program sudah berjalan sepekan.

Ia menilai, pengolahan sampah MBG ini bakal menjadi tantangan tersendiri. Mengingat, Pemkab Sleman belum memiliki sarana pengolahan sampah organik.

Saat ini, baru mengoperasikan dua Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang diperuntukkan buat mengolah sampah residu anorganik.

Oleh sebab itu, Epi mengaku akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk merumuskan bagaimana skema untuk mengurai tumpukan sampah organik tersebut.

Apalagi, jumlah sampah yang dihasilkan dari program ini diperkirakan cukup banyak.

Ia mengkalkulasi jumlah siswa tingkat PAUD, SD hingga SMP di Kabupaten berjumlah 165 ribu. Jumlah tersebut belum termasuk siswa SMK/SMA maupun siswa di pondok pesantren. 

"Jadi, panjenengan bisa bayangkan sampahnya seberapa. Itu tidak hanya sehari. Kalau orang punya gawe, itu kan sehari, tapi ini tiap hari," katanya. 

Lebih lanjut, Ia mengungkapkan, selama ujicoba MBG ini, berdasarkan informasi yang diterima, pihak dapur sebenarnya sudah berupaya menawarkan pengelolaan sampah organiknya ke sejumlah pihak.

Namun ternyata tidak semua mau mengambil untuk dimanfaatkan. Kadang mengambil dan kadang juga tidak. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved