Kini Petani di Bantul Tanam Padi Pakai Mesin
mereka mendapat bantuan transplanter atau alat mesin pertanian untuk menanam bibit padi dari Kementerian Pertanian Indonesia.
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sejumlah petani di Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, kini lebih mudah dan efisien dalam menanam padi di lahan pertaniannya.
Pasalnya, mereka mendapat bantuan transplanter atau alat mesin pertanian untuk menanam bibit padi dari Kementerian Pertanian Indonesia.
Ketua Gapoktan Sari Kismo di Kalurahan Poncosari, Amarwoto Sunu, mengaku tak sabar ingin menanam padi menggunakan alat pertanian modern tersebut.
Alat tersebut dinilai memiliki ragam kelebihan dalam meningkatkan efektifitas industri pertanian padi.
"Alat itu kan disebut-sebut bisa menghemat waktu dan biaya produksi. Nah, kemarin kami dapat beberapa bantuan alat transplanter. Tapi, sampai saat ini kami belum tahu, alat itu akan turun atau sampai ke kami kapan," ucapnya saat dikonfirmasi, Kamis (16/1/2025).
Ia mengaku juga sempat melakukan uji coba penggunaan alat transplanter dengan meminjam milik perusahaan lain.
Walau uji coba hanya dilakukan sebentar, \Amarwoto mengaku mendapatkan dampak positifnya.
"Jadi gini, dengan alat itu kalau misalnya operator transplanter-nya sudah bisa, proses penanaman padi dengan lahan sekitar 1.000 meter per segi hanya memakan waktu sekitar sejam saja. Tapi, kalau operartornya masih pemula, ya paling butuh beberapa waktu lagi," jelas dia.
• Pembangunan Tol Jogja-Solo Paket 2.2 Target Wilayah Sleman Selesai Oktober 2025, Ini Gambarannya
Sedangkan penanaman padi manual membutuhkan sekitar tujuh orang tenaga kerja di lahan 1.000 meter per segi. Itu akan memakan waktu sekitar 5-6 jam untuk proses penanaman padi manual.
"Nah, kalau biasanya kan saat tanam padi manual kita ada biaya makan atau biaya jasa untuk para tenaga kerja yang menanam padi. Nominalnya cukup besar, tapi kalau pakai alat itu kan kita hanya mengeluarkan beberapa biaya bahan bakar minyak untuk operasional transplanter. Jadi, biaya operasional tanam padi itu tidak besar," tutur dia.
Rencananya, apabila alat tersebut turun, penggunaannya akan dikelola oleh pihak Gapoktan, bukan di tingkat kelompok petani.
Tujuannya, untuk mempermudah monitoring keberadaan dan kondisi alat transplanter tersebut.
"Kami juga ingin mengucapkan terimakasih kepada pak Menteri Pertanian, karena sudah memperhatikan kami dan memberikan bantuan alat pertanian yang bagus. Saya harap, dengan alat itu, kerja para petani semakin baik dan mampu menghasilkan produk pertanian yang baik pula," pintanya.
Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul, Joko Waluyo, mengatakan, sebenarnya di Kabupaten Bantul sudah ada petani yang mengoperasionalkan alat transplanter tersebut.
"Itu ada di beberapa tempat. Jadi, itu bukan hal baru lagi di Kabupaten Bantul. Tapi memang untuk kelompok petani di Srandakan itu, mereka belum pernah dapat alat transplanter itu. Baru kemarin ini dikasih sama pak Menteri Pertanian," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kini-Petani-di-Bantul-Tanam-Padi-Pakai-Mesin.jpg)