Ikhtiar Meredam Konflik Warga Pusmalang Sleman 

Sebagian masyarakat mendukung kepempimpinan Dukuh Mustain dan sebagian lagi menolak dan menuntut Dukuh untuk dicopot dari jabatannya

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Warga Pusmalang yang menginginkan Pak Dukuh dipertahankan aksi damai di Balai Kalurahan Wukirsari Kapanewon Cangkringan, pada 30 Desember 2024. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN -- Sejak beberapa tahun terakhir, warga di pedukuhan Pusmalang, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman didera konflik sosial.

Penyebabnya, warga terbelah menjadi dua soal kepemimpinan Dukuh Mustain Romli.

Sebagian masyarakat mendukung kepempimpinan Dukuh Mustain dan sebagian lagi menolak dan menuntut Dukuh untuk dicopot dari jabatannya karena diduga telah melakukan penyelewengan dana pembangunan masjid.

Saat ini, upaya meredam konflik sosial di wilayah itu terus dilakukan. Panewu Cangkringan, Jaka Sumarsana berharap masyarakat di Pusmalang agar tidak mudah terprovokasi.

Tetap berkepala dingin untuk mencari mufakat dan solusi bersama, dengan mengedepankan jalur musyawarah. Sebab, dua kelompok ini sejatinya sama-sama warga satu pedukuhan. 

"Kami, forum komunikasi pimpinan (Kapanewon) siap mengawal bersama masyarakat untuk menyelesaikan permalasahan yang ada. Tentunya dengan melibatkan tokoh masyarakat, Lurah maupun Pamong Wukirsari," kata Jaka, Sabtu (4/1/2025). 

Permalasahan di Pusmalang ini sebenarnya sudah terjadi beberapa tahun lalu, dan puncaknya menguat di akhir tahun 2024. Pada 23 Desember lalu, sejumlah warga yang mengatasnamakan Pusmalang Peduli Kebenaran, Kejujuran dan Keadilan menggelar demonstrasi di depan Balai Kalurahan Wukirsari.

Mereka menuntut Kepada Lurah untuk memberhentikan jabatan Dukuh Pusmalang

Perwakilan massa aksi, H. Mulyadi Ama saat itu, menilai Dukuh Pusmalang sudah bersikap tidak sesuai kedudukannya.

Ia mencontohkan, sebagai Dukuh, yang bersangkutan tidak mau bergotong royong dan berinteraksi dengan masyarakat.

Misalnya ketika ada kegiatan tradisi nyadran dan arisan Jumat Kliwon, Dukuh tidak datang. Padahal kegiatan tersebut sangat penting bagi masyarakat, karena selain arisan, juga menjadi sarana mengumpulkan iuran pembangunan masjid. 

Warga juga menganggap Dukuh tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang tata pemerintahan, karena menganggap jabatan RT/RW hanya formalitas belaka.

Baca juga: Warga Demo Tuntut Dukuh Pusmalang Dicopot,  Begini Kata Pak Lurah 

Puncaknya, sikap yang membuat masyarakat semakin tidak nyaman, yang bersangkutan dinilai telah menggelapkan uang irigasi air, aspal dan uang infaq pembangunan masjid. 

"Intinya, kami warga Pusmalang melihat sikap Dukuh Pusmalang tidak sesuai dengan kedudukannya. Maka warga Pusmalang datang, mohon kepada Pak Lurah untuk memecatnya," ujar Mulyadi. 

Kelompok dari Mulyadi ini, berbeda sikap dengan barisan Sri Harjani. Menurut Harjani dirinya bersama warga di RW 06, justru menilai Pak Dukun Mustain Romli sudah bertindak sesuai ketentuan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved