Ikhtiar Meredam Konflik Warga Pusmalang Sleman
Sebagian masyarakat mendukung kepempimpinan Dukuh Mustain dan sebagian lagi menolak dan menuntut Dukuh untuk dicopot dari jabatannya
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN -- Sejak beberapa tahun terakhir, warga di pedukuhan Pusmalang, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman didera konflik sosial.
Penyebabnya, warga terbelah menjadi dua soal kepemimpinan Dukuh Mustain Romli.
Sebagian masyarakat mendukung kepempimpinan Dukuh Mustain dan sebagian lagi menolak dan menuntut Dukuh untuk dicopot dari jabatannya karena diduga telah melakukan penyelewengan dana pembangunan masjid.
Saat ini, upaya meredam konflik sosial di wilayah itu terus dilakukan. Panewu Cangkringan, Jaka Sumarsana berharap masyarakat di Pusmalang agar tidak mudah terprovokasi.
Tetap berkepala dingin untuk mencari mufakat dan solusi bersama, dengan mengedepankan jalur musyawarah. Sebab, dua kelompok ini sejatinya sama-sama warga satu pedukuhan.
"Kami, forum komunikasi pimpinan (Kapanewon) siap mengawal bersama masyarakat untuk menyelesaikan permalasahan yang ada. Tentunya dengan melibatkan tokoh masyarakat, Lurah maupun Pamong Wukirsari," kata Jaka, Sabtu (4/1/2025).
Permalasahan di Pusmalang ini sebenarnya sudah terjadi beberapa tahun lalu, dan puncaknya menguat di akhir tahun 2024. Pada 23 Desember lalu, sejumlah warga yang mengatasnamakan Pusmalang Peduli Kebenaran, Kejujuran dan Keadilan menggelar demonstrasi di depan Balai Kalurahan Wukirsari.
Mereka menuntut Kepada Lurah untuk memberhentikan jabatan Dukuh Pusmalang.
Perwakilan massa aksi, H. Mulyadi Ama saat itu, menilai Dukuh Pusmalang sudah bersikap tidak sesuai kedudukannya.
Ia mencontohkan, sebagai Dukuh, yang bersangkutan tidak mau bergotong royong dan berinteraksi dengan masyarakat.
Misalnya ketika ada kegiatan tradisi nyadran dan arisan Jumat Kliwon, Dukuh tidak datang. Padahal kegiatan tersebut sangat penting bagi masyarakat, karena selain arisan, juga menjadi sarana mengumpulkan iuran pembangunan masjid.
Warga juga menganggap Dukuh tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang tata pemerintahan, karena menganggap jabatan RT/RW hanya formalitas belaka.
Baca juga: Warga Demo Tuntut Dukuh Pusmalang Dicopot, Begini Kata Pak Lurah
Puncaknya, sikap yang membuat masyarakat semakin tidak nyaman, yang bersangkutan dinilai telah menggelapkan uang irigasi air, aspal dan uang infaq pembangunan masjid.
"Intinya, kami warga Pusmalang melihat sikap Dukuh Pusmalang tidak sesuai dengan kedudukannya. Maka warga Pusmalang datang, mohon kepada Pak Lurah untuk memecatnya," ujar Mulyadi.
Kelompok dari Mulyadi ini, berbeda sikap dengan barisan Sri Harjani. Menurut Harjani dirinya bersama warga di RW 06, justru menilai Pak Dukun Mustain Romli sudah bertindak sesuai ketentuan.
| Revitalisasi Tiga Pasar Tua di Sleman: Alasan Wisata dan Exit Tol Jogja |
|
|---|
| Ini Isi Snack yang Diduga Sebabkan 22 Mahasiswa Unisa Yogyakarta Keracunan saat Studi di Pakem |
|
|---|
| Silaturahmi Terakhir, Ibu dan Anak Asal Cangkringan Tewas Saat Pulang dari Bogor |
|
|---|
| Letkol Arh Reindi Trisetyo Nugroho Jabat Dandim Sleman |
|
|---|
| Sleman Dikepung 11 Potensi Bencana, dari Banjir Bandang hingga Likuifaksi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ikhtiar-Meredam-Konflik-Warga-Pusmalang-Sleman.jpg)