Belum Berdampak Luas, GIPI DIY Minta Pemda DIY Garap Pra dan Pasca Sport Tourism

Potensi sport tourism di DIY cukup baik. Terbukti setiap kegiatan sport tourism mampu mendatangkan wisatawan dari luar DIY. 

Tribunjogja.com/Christi Mahatma
Ketua Gabungan Industi Pariwisata Indonesia DIY, Bobby Ardyanto Setyo Ajie 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardyanto Setyo Ajie menyebut Pemerintah Daerah (Pemda) DIY harus mengelola pra dan pasca kegiatan sport tourism

Menurut dia, potensi sport tourism di DIY cukup baik. Terbukti setiap kegiatan sport tourism mampu mendatangkan wisatawan dari luar DIY. 

“Mulai pertengahan sampai akhir tahun 2024 ini sport tourism benar-benar menjadi sesuatu kegiatan kepariwisataan yang hype. Run (event lari) itu di manapun selalu penuh, dan mampu menarik orang-orang luar Jogja untuk join,” katanya, Senin (16/12/2024).

“Seharusnya sport tourism ini mampu dikombinasikan dengan kegiatan kepariwisataan yang lain, sehingga impact ekonomi dari ekosistem pariwisata bisa tersalurkan,” sambungnya.

Bobby melanjutkan kegiatan sport tourism jangan hanya fokus pada hari H penyelenggaraan.

Namun pra dan pasca kegiatan harus dibuat semenarik mungkin, bahkan kegiatan sport tourism bisa digabungkan dengan paket wisata lainnya. 

Biasanya, kegiatan sport tourism hanya digelar setengah hari, sehingga wisatawan hanya menginap satu malam saja di DIY. Dengan demikian ekosistem pariwisata di DIY belum bisa bergerak secara optimal.

Baca juga: GIPI DIY Optimis Kunjungan Wisatawan DIY Saat Nataru Meningkat, Tapi Perlu Orkestrasi Bersama 


 
“Sport tourism perlu mengkoneksikan dengan ekosistem pariwisata, menjual paket-paket wisata, dan mengerjakan pra dan post event. Sehingga (wisatawan) nggak hanya datang hari H, menikmati run. Tetapi menikmati pra event, menikmati destinasi menarik, termasuk post eventnya. Kalau ini tergarap dengan baik, maka lama tinggal lebih panjang dan spendingnya lebih tinggi,” lanjutnya.

Ia menyebut kegiatan sport tourism yang ada di DIY belum mampu menggerakkan ekosistem pariwisata secara optimal.

Hal itu karena sport tourism belum terkoneksikan dengan industri pariwisata lainnya, yang merupakan bagian dari 13 usaha jasa pariwisata.

Selama ini, sport tourism hanya berdampak pada akomodasi dan industri makan minum. Sementara subsektor dari ekosistem pariwisata lainnya belum merasakan dampak sport tourism.

“Inilah yang perlu disikapi bersama untuk menghidupkan ekosistem itu, sehingga harapannya tamu atau wisatawan yang hadir mampu didistribusikan secara ekonomi kepada ekosistem pariwisata,” imbuhnya. (maw)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved