Salat Witir: Penutup Ibadah Malam
Salat witir, yang ditandai dengan jumlah rakaat yang ganjil, memiliki keistimewaan tersendiri.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Artinya: “Salat witirlah kalian sebelum tiba waktu subuh.” (HR. Muslim)
Hal ini juga diterangkan dalam hadis lain,
“Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan salat yang lebih baik bagi kalian dari unta yang merah, salat itu ialah salat witir. Lakukanlah salat witir antara isya dan salat subuh.” (HR. Tirmidzi)
Baca juga: Keutamaan dan Faedah Salat Berjamaah: Raih Pahala Berlipat
c. Karakteristik
1) Waktu Salat Witir
Waktu pelaksanaan salat witir ialah setelah melakukan salat isya hingga salat subuh.
Adapun pelaksanaan salat witir yang paling utama ialah di bagian akhir malam.
Aisyah pernah berkata, “Tiap malam Rasulullah melakukan salat witir, terkadang di awal, di tengah, dan di akhir. Salat witirnya berakhir dengan di waktu sahur,” (HR. Muslim)
Dari Jabir ra., bahwa Rasulullah bersabda, “Siapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam maka hendaklah melakukan witir di awal malam. Namun, siapa yang mampu bangun di akhir malam, lebih baik mengerjakan witir di akhir malam. Karena salat di akhir malam itu disaksikan dan lebih utama,” (HR. Muslim)
2) Jumlah Rakaat Witir
Jumlah minimal salat witir ialah satu rakaat dan hal itu boleh tanpa ada makruh.
Jumlah maksimal salat witir adalah sebelas rakaat.
“Lakukanlah salat witir dengan lima, tujuh, sembilan, dan sebelas rakaat,” (HR. Abu Daud)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Salat-Witir.jpg)