Para Legenda Silat Perisai Diri Turun Gunung Bahas Pertandingan Peraturan Baru di Yogyakarta

Sarasehan Pembinaan Prestasi Silat Perisai Diri yang digelar oleh Pengurus Pusat Perisai Diri di Universitas Gadjah Mada

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Pesilat Perisai Diri saat mempraktikan jurus dan aturan baru saat sarasehan pendekar silat Perisai Diri di UGM, Yogyakarta. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Para legenda pencak silat perguruan Perisai Diri turun gunung bersama-sama membahas dan menyosialisasikan pertandingan yang mengggunakan aturan baru yang dikeluarkan oleh IPSI tahun 2022 lalu.

Mereka adalah mantan juara dunia dan juara SEA Games tahun 1987 hingga 1990-an seperti Joko Widodo dari Yogyakarta, Surianto dari Bandung, maupun Tony Widya dari Jakarta.

Para mantan juara itu berdiskusi dan praktik langsung pertarungan dalam acara Sarasehan Pembinaan Prestasi Silat Perisai Diri yang digelar oleh Pengurus Pusat Kelatnas Indonesia Perisai Diri di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu-Minggu 16-17 November 2024.

Sarasehan itu dihadiri oleh para pelatih dan pendekar Perisai Diri dari berbagai daerah mulai dari Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, NTT, Bali, Jabar, Banten, Jatim, Jateng dan DIY.

"Kami membahas penerapan teknik bertanding yang sesuai dengan peraturan IPSI tahun 2022. Bapak Soebandiman Dirdjoatmodjo sebagai pendiri Perisai Diri telah membekali kami dengan teknik beladiri. Kini bagaimana menerapkan teknik itu dalam pertandingan sesuai aturan yang digunakan," kata Ketua Umum Pengurus Pusat Kelatnas Indonesia Perisai Diri, Dwi Soetjipto.

Baca juga: Seorang Wanita di Jogja jadi Korban KDRT Suami dan Anaknya Sendiri, Pelaku Bacok Korban Pakai Golok

Ia menjelaskan, pada era tahun 1980-1990-an Perisai Diri masih menguasai di arena kejuaraan.

Seiring perkembangan pencak silat, maka prestasi seluruh perguruan mulai merata.

Bahkan silih berganti menguasai arena pertandingan.

"Di Perisai Diri kami telah dibekali dengan metode berlatih tanding dengan cara serang hindar. Kini di arena para pesilat justru terlibat teknik saling tarik untuk menjatuhkan lawannya guna menghasilkan poin terbesar," ucapnya.

Untuk itu, dia meminta, lewat sarasehan ini para pelatih membagikan ilmunya ke pelatih lain di seluruh daerah agar prestasi di daerah makin membaik.

Teknik harus dikuasai agar menjadi reflek dalam bertanding.

Sementara itu pelatih dari NTT, Melkias Rumlaklak menambahkan, Pesilat juga harus mampu menyesuaikan keadaan dengan kondisi di lapangan.

"Kapan harus memasang kuda-kuda yang tepat agar lawan kesulitan bila ingin membanting. Di satu sisi pesilat juga harus mampu mendaratkan serangan cepat untuk memperoleh nilai," katanya.

Acara yang dipandu oleh Pendekar Sunardi dari DIY itu berlangsung berisikan diskusi yang bernas.

Bukan hanya soal pertandingan, namun juga pengembangan perguruan ini di daerah-daerah.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved