Ternak Ruminansia Kecil Bisa Jadi Komoditas Strategis seperti Unggas
Tak hanya mudah dipelihara, ternak ini juga memiliki produktivitas tinggi dengan permintaan pasar yang stabil, dari daging, susu, hingga kulitnya.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Di tengah upaya diversifikasi pangan dan pengembangan sektor peternakan, ruminansia kecil seperti kambing dan domba perlu dilirik sebagai komoditas strategis yang menjanjikan.
Tak hanya mudah dipelihara, ternak ini juga memiliki produktivitas tinggi dengan permintaan pasar yang stabil, dari daging, susu, hingga kulitnya.
Di beberapa daerah, kambing dan domba bahkan menjadi simbol ekonomi lokal yang menyokong penghidupan banyak peternak kecil.
Untuk itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (DPP HPDKI), Ir. Yudi Guntara Noor, S.Pt., IPU., menegaskan ternak ruminansia kecil perlu terus didorong untuk menjadi komoditas strategis.
Menurut Yudi selama ini pemerintah lebih banyak fokus pada pengembangan unggas, sapi potong dan perah.
“Ruminansia kecil seperti domba dan kambing belum menjadi komoditas strategis,” kata Yudi saat mengisi pidato ilmiah pada Rapat Senat Terbuka Fakultas Peternakan UGM, Senin (11/11/2024).
Yudi menambahkan keberadaan ruminansia kecil memiliki posisi strategis apalagi jika dikaitkan dengan 17 tujuan SDGs, seperti tanpa kemiskinan, pengentasan kelaparan, kesetaraan gender, kesehatan, maupun pendidikan berkualitas.
Keberadaannya juga sangat bermanfaat di masyarakat pedesaan
“Bibit, pakan dan dipelihara oleh orang asli Indonesia. Sebagai sumber protein alternatif dari sisi harga juga lebih terjangkau,” kata pemilik PT Agro Investama (Perusahaan Peternakan Domba Terintegrasi & Horticulture) tersebut.
Baca juga: Pengamat Ekonomi Energi UGM Sebut Realisasi Subsidi Kendaraan Listrik Masih Kecil
Diakui Yudi untuk mengembangkan ruminansia kecil kambing dan domba tidak mudah.
Beberapa langkah sudah dilakukan mulai dari pengembangan pasar, inklusi keuangan melalui KUR serta introduksi genetik dan persilangan dengan domba Dorper.
Yudi memberikan gambaran persilangan antara domba Garut dan domba Dorper menghasilkan peningkatan performance produksi bobot badan lebih baik jika dibandingkan dengan domba lokal misalnya Garut dan non-Garut.
“Pada tingkat bobot yang sama domba persilangan Garut dengan Dorper lebih cepat dua bulan. Bobot domba lokal umur delapan bulan sama dengan bobot domba persilangan Garut dengan Dorper umur enam bulan,” urainya.
Dengan potensi besar dan kemudahan dalam pemeliharaan, ruminansia kecil seperti kambing dan domba dapat menjadi tulang punggung ekonomi lokal sekaligus alternatif pangan yang lebih beragam.
Melalui dukungan kebijakan pemerintah serta sinergi antara peternak dan pasar, diharapkan komoditas ini mampu tumbuh pesat dan semakin berdaya saing.
Saat peluang semakin terbuka, tinggal menunggu langkah nyata untuk menjadikan ruminansia kecil sebagai komoditas strategis yang benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat luas. (*)
| 194 Kasus PMK Ditemukan di DIY, Sebaran Tertinggi di Kulon Progo |
|
|---|
| DKPP Bantul Distribusikan Vaksinasi PMK Secara Bertahap di Pundong |
|
|---|
| Dua Hewan Ternak Mati Terpapar PMK, DKPP Bantul Berikan Vaksinasi PMK Secara Bertahap |
|
|---|
| Antisipasi Sebaran PMK, Ratusan Hewan Ternak di Kota Yogyakarta Disasar Program Vaksinasi |
|
|---|
| Maling Sapi di Madura Nekat Serang Polisi Pakai Golok, Kakinya Didor 3 Kali, Akhirnya Tewas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ir-Yudi-Guntara-Noor-SPt-IPU.jpg)