Mubeng Kampus Jogja
Bagaimana Cara Capai Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Lewat Sektor Pertanian? Ini Tips Pakar UGM
Pembangunan pertanian memberikan sumbangan bagi pembangunan daerah, baik secara langsung dalam menopang pertumbuhan ekonomi.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
Selanjutnya, Masyhuri juga menekankan pada pentingnya peningkatan harga produk pertanian bagi komoditas yang memiliki nilai ekspor, karena kenaikan tersebut berimbas pada meningkatnya pendapatan petani.
Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan mengembangkan komoditas unggulan, karena tiap daerah atau desa pasti memiliki karakteristik dan komoditas yang berbeda. Komoditas ini yang kemudian ditambahkan nilainya (added value) yang selanjutnya dikembangkan dan dijamin keberlanjutannya melalui Usaha Mikro, Kecil dan menengah (UMKM).
“Jadi ada sinergitas antara pertanian dan industri, kita dorong UMKM ini dengan stimulus Keynesian, caranya bisa dengan pembebasan pendaftaran dan pajak, serta bantuan kemudahan pembiayaan atau kredit dengan bunga murah, dan insentif-insentif lainnya,” ujar Masyhuri.
Sedangkan, terkait dengan target pertumbuhan ekonomi delapan persen, ia menyebutkan masih bisa dicapai (attainable growth), meskipun dalam rentang 1961-2023 pertumbuhan ekonomi rerata Indonesia hanya 5,11 persen.
Menurutnya, stimulus Keynesian paling potensial digunakan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi.
“Stimulus ini adalah kebijakan fiskal pemerintah untuk menjaga daya beli dan menggerakkan permintaan,” ungkap Masyhuri.
Ia mencontohkan tax holiday bagi UMKM ataupun perusahaan baru, start up, serta perusahaan kecil akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi karena selain membuka lapangan kerja, juga akan berdampak pada berkurangnya pengangguran dan mengurangi kemiskinan.
Selanjutnya, upaya peningkatan produksi juga perlu dibarengi dengan modernisasi pertanian secara komprehensif melalui hilirisasi dan teknologi yang tidak terhenti pada produksi suatu produk saja, tetapi hingga pengolahan dan manufacturing, pemasaran dan jaringannya, sampai dengan penyediaan sistem penunjang seperti sistem pergudangan, asuransi, dan bank pertanian.
“Contohnya pemanfaatan sagu, selain sebagai bahan baku industri makanan atau minuman, harus bisa menjadi bahan baku bagi industri lain. Jadi produk turunannya sudah bisa di level ke-6 dan ke-7,” jelas Masyhuri yang juga berperan sebagai Penasehat Asosiasi Agribisnis Indonesia (AAI).
Masyhuri juga menekankan bahwa hilirisasi komoditas pertanian tidak akan berarti tanpa ditopang oleh negosiasi dagang yang kuat.
Hal ini dikarenakan negara lain bisa saja mengembangkan sejumlah komoditas pertanian yang sama dengan Indonesia sehingga akan melemahkan daya saing produk dalam negeri.
“Peran pemerintah untuk membuat perjanjian perdagangan bebas tarif nol persen dengan negara tujuan ekspor potensial,” tutupnya. ( Tribunjogja.com )
| Jaringan Demokrasi Indonesia DIY dan UAD Berkolaborasi Pantau dan Awasi Pilkada 2024 |
|
|---|
| Mahasiswa FIPP UNY Dapat Penghargaan dari Polresta Sleman, Kontribusi sebagai JBI |
|
|---|
| FTSP UII Ajak Mahasiswa Bikin Prototipe Jembatan Rangka |
|
|---|
| UII dan APHK Gelar Diskusi Akademik Susun Hukum Perikatan |
|
|---|
| Mahasiswa Berprestasi UWM Yogyakarta Dapat Beasiswa dari Bank BPD DIY |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ilustrasi-Permintaan-Penawaran.jpg)