Berita Sleman Hari Ini

Krisis Air di Sleman Meluas, di Banyurejo Ada 5 Padukuhan Mulai Terdampak

Warga mengalami kesulitan air seiring musim kemarau berkepanjangan dan diperparah adanya pengeringan Selokan Mataram maupun Van Der Wicjk.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
ist
Ilustrasi kekeringan 

Totalnya membutuhkan 14 HU untuk penampungan dropping air bersih. 

"HU di BPBD Sleman habis, banyak yang membutuhkan dropping. Kalau ada yang bisa membantu HU, kami berterimakasih. Karena khawatirku, jika panas terus menerus maka krisis air bakal semakin meluas," katanya. 

Terpisah, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman , Bambang Kuntoro mengatakan pihaknya sedang mengupayakan pembelian HU namun diperkirakan baru datang di tanggal 2 November. 

Adapun HU yang saat ini tersedia telah habis disalurkan ke wilayah yang membutuhkan dropping, termasuk HU milik Balai Prasarana Pemukiman wilayah (BP2W) DIY yang rutin disewa juga habis.

Padahal kebutuhan air bagi masyarakat mendesak untuk disalurkan, sehingga solusi alternatifnya, masyarakat diminta membuat tampungan air menggunakan terpal. 

"Karena ini darurat, tidak ada akar rotan pun jadi. Kami punya terpal. Silakan masyarakat untuk menyiapkan lokasi untuk membuat kolam-kolam terpal untuk tampungan air. Itu solusinya," kata dia. 

Berdasarkan data BPBD Sleman, sejauh ini sudah ada 3 Kalurahan, serta 4 Sekolah di tiga Kecamatan yang telah mendapatkan bantuan dropping air bersih.

Tiga Kalurahan tersebut meliputi Sendangrejo, Sendangagung, dan Sendangsari di Kapanewon Minggir.

Adapun sekolah yang terdampak krisis air yaitu dua sekolah SD dan satu TK di Moyudan.

Kemudian SD di Tlogoadi, Mlati. 

Total warga terdampak 1.625 jiwa dengan jumlah bantuan yang sudah didistribusikan sebanyak 294.300 liter air bersih.( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved