Antisipasi Bencana Hidrometeorologi, BPBD DIY Serahkan Bantuan Peralatan dan Pasang Bronjong

BPBD DIY telah menyerahkan bantuan peralatan penanggulangan bencana di enam titik lokasi Kalurahan Tangguh Bencana (Kaltana).

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM/ HANIF SURYO
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Noviar Rahmad. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY terus berupaya memitigasi dampak bencana hidrometeorologi di wilayahnya.

BPBD DIY telah menyerahkan bantuan peralatan penanggulangan bencana di enam titik lokasi Kalurahan Tangguh Bencana (Kaltana).

Dua lokasi yang baru saja menerima bantuan adalah Kricak, Kota Yogyakarta, dan Kalurahan Gari di Gunungkidul.

"Bantuan ini merupakan bagian dari strategi kami untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana," ujar Kepala Pelaksana BPBD DIY Noviar Rahmad.

Noviar mengungkapkan komitmen lembaganya dalam menanggulangi bencana yang sering melanda daerah tersebut.

Peralatan yang diserahkan mencakup berbagai alat penting, seperti cangkul, tenda, gergaji mesin, sepatu boot, mantel hujan, dan peralatan lainnya yang diharapkan dapat membantu masyarakat dalam situasi darurat.

Lebih lanjut, BPBD DIY juga melakukan pemetaan di wilayah-wilayah yang berpotensi terdampak oleh bencana hidrometeorologi.

"Semua wilayah di DIY berpotensi terdampak hidrometeorologi. Namun, untuk potensi longsor, Kulon Progo dan Gunungkidul menjadi perhatian khusus. Selain itu, risiko pohon tumbang bisa terjadi di semua wilayah," jelasnya.

Baca juga: Kondisi Terkini Kekeringan di DIY, BPBD Catat Ribuan Liter Air Terdistribusi

Pentingnya antisipasi ini diakui oleh banyak pihak, mengingat karakteristik geografis DIY yang rentan terhadap bencana alam.

Dalam menghadapi ancaman tanah longsor, BPBD DIY tidak hanya memberikan peralatan, tetapi juga memberikan bantuan bronjong di daerah-daerah yang berpotensi mengalami tanah longsor.

 Bronjong, yang merupakan konstruksi untuk mencegah erosi, dipasang di lereng-lereng yang rawan.

"Pemasangan bronjong dilakukan dengan swadaya masyarakat, dan total kami telah memberikan 500 bronjong di seluruh DIY," tambahnya.

Ditambahkan Noviar, hingga saat ini pihaknya belum menetapkan status siaga darurat untuk bencana hidrometeorologi.

Menurutnya, keputusan tersebut masih menunggu informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai dasar penetapan status siaga.

“Mungkin dalam minggu depan, jika informasi sudah fix, kami akan menetapkan status siaga darurat,” ujarnya.

Meskipun BPBD DIY belum memberlakukan status siaga darurat, beberapa kabupaten di DIY telah mengambil langkah preventif sejak musim kekeringan beberapa waktu lalu.

Kabupaten Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul sudah menetapkan status siaga darurat hidrometeorologi, mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu.

Berdasarkan informasi dari BMKG, bulan Oktober sudah memasuki dasarian ketiga yang menandai transisi menuju musim hujan.

Noviar menjelaskan bahwa bulan November diperkirakan akan masuk ke musim hujan yang berlangsung hingga Februari.

Dalam menghadapi musim pancaroba, BPBD DIY mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada dan mempersiapkan diri.

Masyarakat diharapkan tidak hanya memperhatikan informasi cuaca dari BMKG, tetapi juga melakukan langkah-langkah mitigasi bencana di lingkungan mereka masing-masing.

Dengan adanya informasi ini, diharapkan masyarakat DIY dapat lebih memahami kondisi cuaca dan mengambil tindakan preventif untuk menjaga keselamatan diri dan lingkungan. (HAN)
 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved