Pemkab Sleman Mitigasi Dampak Pengeringan Selokan Mataram dan Van Der Wicjk 

Saluran Mataram dan Van Der Wicjk berencana dikeringkan untuk sementara waktu, dimulai bulan Oktober mendatang.

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM/Ahmad Syarifudin
Selokan Mataram di samping pembangunan jalan tol Jogja Bawen di wilayah kabupaten Sleman terlihat kering, Rabu (18/10/2023) 

TRIBUNJIGJA.COM, SLEMAN - Saluran Mataram dan Van Der Wicjk berencana dikeringkan untuk sementara waktu, dimulai bulan Oktober mendatang.

Pengeringan dua saluran irigasi yang menjadi andalan petani dan pembudidaya ikan ini berpotensi menimbulkan dampak signifikan, terutama di Kabupaten Sleman. Sebab itu, langkah mitigasi dilakukan untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan. 

Sekretaris Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman, Rofiq Andiyanto mengatakan perkiraan awal dampak pengeringan dua saluran irigasi tersebut berdampak terhadap seribuan lahan pertanian di Sleman.

Dampaknya juga dirasakan budidaya kolam perikanan, namun angka pastinya belum dihitung. Karena itu, pihaknya berupaya komunikasi dan mensosialisasikan rencana pengeringan tersebut kepada kelompok pengguna air agar tidak terjadi gejolak. 

"Selama ini kami sudah sosialisasikan kepada petani untuk bisa mengatur tata waktu tanam, menyesuaikan dengan kondisi pengeringan selokan Mataram maupun Van Der Wicjk sehingga pada saat tanam, disesuaikan," kata dia, Sabtu (21/9/2024). 

Menurut dia, pengeringan Selokan Mataram dan Van Der Wicjk sudah dikomunikasikan sejak jauh hari. Sehingga petani yang mengandalkan pasokan aliran air dari dua saluran irigasi tersebut diharap menyesuaikan jenis tanaman.

Di samping itu, juga mengatur waktu tanamnya sehingga meskipun tidak ada air tetap bisa panen. 

Jika ketika dikeringkan belum panen, maka bisa diupayakan menarik sumber air dari sumur bor. Begitu juga dengan budidaya ikan diharapkan memilih benih ikan yang hemat air. 

"Jangan tebar ikan yang bersisik, tapi pilih yang seperti lele, sehingga relatif bisa bertahan meksipun airnya sedikit. Jadi mitigasi tetap kami lakukan, bukan hanya pada infrastruktur sarana tapi juga menajemen waktu," kata dia. 

Lebih lanjut, Rofiq mengatakan, Bupati Sleman pernah berkirim surat ke Kementerian PUPR, agar saat pengeringan selokan untuk pemeliharaan dan membangun infrastruktur tidak di musim kemarau.

Baca juga: Rencana Pematian Selokan Mataram, Ratusan Hektar Lahan di Kalasan Berpotensi Terdampak

Selain itu, pekerjaan juga diharapkan dipersingkat dengan teknologi yang ada, sehingga pengeringan tidak begitu lama. Komunikasi juga dibutuhkan sehingga para petani dapat menyikapi pengeringan selokan dengan lebih baik. 

"Kemudian pertanyaan bagi yang puso atau gagal panen bagaimana, kami membantu insentif benih padi maupun cabe," kata dia. 

Terpisah, Panewu Minggir Djoko Muljanto mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima dari UPTD B4 Minggir - Moyudan, pengeringan saluran Van Der Wicjk di wilayahnya berpotensi berdampak pada 1.119 hektar lahan pertanian.

Dari jumlah tersebut, yang berpotensi bero sekitar 100 hektar dan mayoritas adalah tanaman padi. Adapun untuk kolam ikan berdampak hektare yang ada di 30 kelompok petani ikan se- kapanewon Minggir. 

"Itu potensi. Kalau yang ada sumur dangkal bisa sedikit berkurang dampaknya, atau pilih ikan yang tahan genangan, kurang air," kata dia. 

Sebagimana diketahui, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) berencana menutup sementara aliran air Selokan Van Der Wicjk dan Selokan Mataram.

Penutupan aliran yang dimulai bulan Oktober ini, bertujuan untuk mengecek rehab yang sudah dilakukan sekaligus pemindahan pintu dan saluran irigasi menggunakan beton dari proyek pembangunan jalan tol. 

"(Pematian air) Ini sudah sesuai dengan kesepakatan," kata Ahli Madya Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air, BBWSSO, Rr. Vicky Ariyanti..

Penutupan  Saluran Van Der Wicjk tahun ini berlangsung selama satu bulan penuh, dimulai tanggal 1-31 Oktober.

Sedangkan penutupan Saluran Mataram mulai tanggal 16 Oktober hingga 2 Desember 2024 atau selama lebih kurang 1,5 bulan.

Penutupan dua saluran irigasi tersebut berdasarkan hasil kesepakatan dari koordinasi lintas sektor yang diselenggarakan pada akhir Juli 2024 lalu.

Rapat koordinasi dihadiri BBWSSO, Pemerintah DIY, Pemkab Sleman, Bantul, Kulon Progo, BMKG, BPBD hingga pengurus forum kelompok tani pengguna air. 

Penutupan air di dua saluran tersebut dinilai penting dilakukan.

Menurut Vicky, selain untuk persiapan pengecekan rehab yang sudah dilakukan, juga karena ada pemindahan pintu dan saluran irigasi dari pihak jalan tol yang menggunakan beton di hulu area pekerjaan wilayah Seyegan.

Operasi pemeliharaan dengan menutup saluran ini, kata dia, bakal rutin dikonsepkan setiap tahun. 

"Tahun depan dan tahun- tahun setelahnya juga akan dikonsepkan pematian untuk pemeliharaan saluran. (Pematian air) menjadi kegiatan reguler, sehingga akan ada waktu yang lega untuk melakukan operasi pemeliharaan dari tahun ke tahun," ujar Vicky. (rif)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved