Berita Klaten Hari Ini

Warga Desa Pokak Klaten Sembelih 22 Kambing di Tradisi Bersih Sendang Sinongko

Masyarakat Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menggelar tradisi tasyakuran dan bersih Sendang Sinongko.

Penulis: Dewi Rukmini | Editor: Gaya Lufityanti
Tribunjogja.com/Dewi Rukmini
Masyarakat Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, membuat nasi tumpeng yang dimasukkan ke dalam wadah tenong pada gelaran bersih Sendang Sinongko, pada Jumat (30/8/2024). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Dewi Rukmini

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Masyarakat Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menggelar tradisi tasyakuran dan bersih Sendang Sinongko di Dukuh Tegal Duwur, desa setempat pada Jumat (30/8/2024). 

Pada kegiatan itu, ada sebanyak 22 kambing yang disembelih lalu dimasak menjadi hidangan gulai becek dan disantap oleh ribuan orang di tepi Sendang Sinongko .

Mereka terlihat akrab bercengkrama sambil menikmati hidangan gulai kambing, sambel krecek, hingga camilan kacang rebus, pisang, dan jagung rebus. 

Selain itu, warga Desa Pokak juga terlihat membawa ratusan tumpeng makanan berisi ingkung ayam kampung, nasi, sambel krecek, sayuran, dan buah-buahan yang dibawa menggunakan tenong (wadah dari anyaman bambu).

Ratusan tenong itu diletakkan di sebuah pohon besar yang ada di tepi sendang. 

Kemudian, warga pemilik tenong itu terlihat mengambil sedikit demi sedikit makanan yang ada di dalam tumpeng.

Lalu diletakkan di dekat pohon besar, warga menyebutnya dengan istilah buangan.

Adapun di dekat pohon besar itu tampak ada beberapa orang yang siap menadah atau mengambil makanan tersebut. 

Setelah proses buangan selesai, terlihat panitia mulai membagikan hidangan gulai ke dalam ratusan tenong.

Selanjutnya warga pemilik tenong tampak mengambil tenong tersebut dan membawanya pulang ke rumah masing-masing. 

Seorang warga Dukuh Tegal Duwur, Desa Pokak, Ipah (45), mengatakan bahwa tradisi bersih Sendang Sinongko itu telah dilaksanakan rutin setiap tahun.

Bahkan tradisi itu sudah ada sejak nenek moyangnya dulu. 

"Ini ada beberapa grup atau kelompok warga yang masing-masing menyembelih kambing, terus dimasak dan dibuat pesta makan bersama-sama. Nanti sisa gulai kambingnya dibagikan di setiap tenong dan dibawa pulang. Tenong dari warga, setiap satu KK," ucap Ipah kepada Tribunjogja.com , Jumat (30/8/2024). 

Ipah mengatakan, selain untuk nguri-nguri budaya dan tradisi desa setempat.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved