Arti Kata

ARTI Kata Tone Deaf yang Ramai di Medsos, Bukan Hanya Tuli Nada, tapi Juga Tak Peka Sosial

Tone deaf, apabila diterjemahkan secara harfiah, berarti buta nada. Biasanya, itu merujuk pada orang-orang yang tidak mampu mengenali nada

Freepik
Ilustrasi tidak peduli, tone deaf, acuh 

TRIBUNJOGJA.COM - Istilah tone deaf sedang ramai dibicarakan di media sosial.

Tone deaf, apabila diterjemahkan secara harfiah, berarti buta nada. Biasanya, itu merujuk pada orang-orang yang tidak mampu mengenali atau membedakan nada dengan musik yang tepat.

Awalnya, kalimat itu memang digunakan untuk hal-hal berhubungan dengan musik. Namun, seiring perkembangan zaman, tone deaf memiliki arti yang berbeda.

Tone deaf acapkali disematkan orang-orang yang tidak peka atau tidak mengerti keadaan sosial, seperti adat istiadat, norma, aturan dan sebagainya.

Menurut definisi dari Urban Dictionary, istilah tone deaf atau socially tone deaf merujuk pada seseorang yang sering kali tidak mampu memahami norma sosial secara konsisten. 

Hal ini membuatnya terlibat dalam situasi yang tidak sesuai dengan harapan orang di sekitarnya.

Contoh, seorang anak pejabat yang berfoya-foya di luar negeri dan memamerkannya di media sosial ketika banyak nasib warga negaranya di ujung tanduk.

Dia bisa disebut tone deaf secara sosial. Istilah ini juga sering digunakan dalam konteks komentar atau tindakan yang dianggap kurang peka terhadap isu-isu sensitif atau perasaan orang lain di media sosial atau dalam percakapan sehari-hari.

Meski digunakan sebagai istilah modern, konsep tone deaf sudah ada sejak abad ke-18 di Perancis. 

Melalui kutipan let them eat cake (biarkan mereka makan kue) yang dikaitkan dengan ratu Perancis selama Revolusi Perancis, Marie-Antoinette. 

Baca juga: 34 Arti Kata Gaul Kekinian Gen A Dalam Percakapan Sehari-hari: Skibidi, Ate, Sus, Cheugy, Cringe

Dilansir dari ensiklopedia Britannica, menurut cerita, kutipan tersebut adalah respons sang ratu ketika diberitahu bahwa rakyatnya yang kelaparan tidak memiliki roti.

Sementara, harga kue lebih mahal daripada roti, anekdot ini telah dikutip sebagai contoh ketidakpedulian Marie-Antoinette terhadap kondisi dan kehidupan sehari-hari rakyat biasa. 

Meskipun, kalimat itu mungkin tidak benar-benar diucapkan oleh Marie-Antoinette. 

Pada beberapa kasus, tuli nada sosial mungkin sebuah kebetulan sehingga dapat diatasi dan diperbaiki.

Namun, dalam kasus lainnya, tuli nada sosial atau tone deaf lebih bersifat munafik dan tumpul, sehingga tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah para pelakunya karena mereka benar-benar tidak peduli untuk mengubah nada mereka.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved