Inspiring Beauty
Titah Melepas Kemelekatan Lewat Komunitas Pamiranti
Mimpi menjadi kenyataan dialami Brigita Titah Nareswari, komunitas seni bernama Pamiranti yang ia gadang-gadang sejak lama, kini sudah 2 tahun hidup.
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Agus Wahyu
TRIBUNJOGJA.COM - Mimpi menjadi kenyataan dialami Brigita Titah Nareswari. Titah, begitu dara ini akrab disapa, tak mengira apa yang ia impikan datang lebih cepat di luar perhitungannya. Sebuah komunitas seni bernama Pamiranti yang ia gadang-gadang sejak lama, kini sudah dua tahun hidup.
Pamiranti adalah angan-angan Titah kelak, ketika ia membayangkan sudah mapan secara ekonomi baru kemudian ia prediksikan bisa membuatnya. Namun, dewi fortuna merapat lebih cepat, Titah diberi kemudahan sehingga komunitas seni yang sementara ini fokus pada tari klasik, akhirnya ia dirikan bersama teman-temannya dua tahun silam.
Titah memang tak mengenyam pendidikan seni tari secara formal. Hanya saja, ia sudah belajar tari klasik, utamanya gaya Jogja, sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ketertarikannya pada seni tari klasik bahkan berlanjut hingga ia kuliah di jurusan ekonomi UGM.
Bahkan, usut punya usut, Titah diterima masuk sebuah perguruan tinggi terbaik di Indonesia tersebut melalui jalur prestasi bidang seni, yakni seni tari. Titah menorehkan prestasi di ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional melalui tari kreasi baru.
Perjalanan di dunia seni tari inilah yang menjadi alasan kuat Titah ingin mendirikan sebuah komunitas seni tari berbasis mandiri.
"Lahirnya Pamiranti, yang artinya adalah tempat belajar ini memang di luar kuasaku, ternyata dimudahkan tak harus nunggu aku mapan secara ekonomi. Ternyata ketika kita fokus, ada saja Tuhan kasih jalan. Pamiranti terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar tari klasik Jogja, basisnya adalah komunitas, kita belajar bareng," terang Titah.
Titah menuturkan, di Pamiranti semua orang dipersilakan belajar tari klasik gaya Jogja. Lantaran berbasis komunitas, semua yang ingin belajar tak diwajibkan selalu mengikuti kelas, disesuaikan kebutuhan masing-masing. Titah memaknai lahirnya Pamiranti sebagai cara melepas kemelekatan atau berusaha tak tergantung orang lain, dan bisa berusaha melalui caranya sendiri.
Misalkan ada yang hanya mengikuti sekali pertemuan juga tak mengapa. Pada prinsipnya, memang belajar bersama, satu sama lain bisa saling bertukar ilmu dan pengalaman.
"Sementara ini Pamiranti dikelola oleh beberapa orang. Ada yang memang penari memiliki latar belakang pendidikan formal di tari, ada Mbak Ina, Ela, Rani dan Ratih. Kami semua memiliki semangat yang sama, yakni ingin memperkenalkan seni tari lebih luas dengan belajar bersama. Konsepnya inklusi, di ulang tahun kedua kemarin, kami kolaborasi dengan teman tuli dengan berbagi panggung yang sama," ungkap Titah.
Melalui Pamiranti, Titah memiliki harapan besar semakin banyak masyarakat yang minimal mengenal tari klasik. Selanjutnya, masing-masing setelah kenal bisa melanjutkan sesuai kebutuhan masing-masing, entah untuk profesi atau sekadar hobi.
Bagi Titah, Pamiranti adalah sebuah cara berbagi pengalaman dan ilmu dengan masyarakat luas dan juga sebaliknya, sebagai sarananya menyerap banyak pengetahuan dari mereka yang hadir dengan beragam latar belakang.
"Kadang para wisatawan asing yang hadir, mereka ikut belajar. Kebetulan Pamiranti diberi ruang di sebuah kafe di kawasan wisata di daerah Selatan Jogja, Savasana Coffee and Event Space di Sewon, Bantul, banyak wisatawan asing mampir dan ikut menari," kata Titah.
Bikin Produk Herbal
DARA kelahiran Yogyakarta, 9 Agustus 1998 ini disela kesibukannya bekerja kantoran sebagai tenaga pendidikan di sebuah Kampus dan mengurus komunitas Pamiranti, juga mengembangkan bisnis bidang kuliner bernama Untuk Dunia.
Produk Untuk Dunia fokus pada minuman rempah siap minum dalam kemasan botol. Bisnis ini ia mulai bersama sang Ibu, saat pandemi Covid-19 melanda. Titah mengisahkan, kala itu hampir setiap hari mengkonsumsi minuman rempah yang memang bagus untuk menjaga kesehatan tubuh.
"Idenya karena kami sering bikin minuman rempah di rumah, bahannya antara lain, kunyit, madu dan jahe, kenapa ngga diproduksi lebih banyak dan dipasarkan. Ternyata, banyak yang minat waktu itu tahun 2020 sampai sekitar 2022, cukup melejit dulu pesanannya. Kami menggunakan botol reuse, misinya eco friendly brand,"kata Titah.