Wonderful Riau Island

Sejarah Benteng Bukit Kursi di Pulau Penyengat Kepri Dulu Sentral Pertahanan Kini Jadi Tempat Wisata

Begini sejarah Benteng Bukit Kursi di Pulau Penyengat Kepri sejak zaman kerajaan sampai sekarang menjadi tempat wisata dan cagar budaya.

DOK. Disbud Kepri
Sejarah Benteng Bukit Kursi di Pulau Penyengat Kepri Dulu Sentral Pertahanan Kini Jadi Tempat Wisata 

Dari 8 buah meriam yang ditempatkan, 6 buah meriam mengarah ke laut. 

Pintu utama Benteng Bukit Kursi berada di sisi selatan dengan sebuah jembatan sebagai akses masuk ke dalam benteng

Sejarah Benteng Bukit Kursi

Benteng Bukit Kursi di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri)
Benteng Bukit Kursi di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) (DOK. Kemendikbud RI)

Berbicara sejarah Benteng Bukit Kursi tak akan lepas dari sejarah Pulau Penyengat.

Dikutip dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, nama Pulau Penyengat tentu tidak asing apabila mengingat sejarah kejayaan Melayu-Riau 

Dalam cerita lokal, Penyengat berawal dari kisah seorang pelaut yang disengat lebah pada saat mengambil air di pulau ini, sehingga pulau ini disebut Pulau Penyengat

Orang Belanda sendiri menjuluki pulau ini sebagai Pulau Indera dan ulau Mars sehingga Pulau Penyengat juga dikenal sebagai Pulau Penyengat Inderasakti.

Menelisik dari sejarah, pada tahun 1805, Pulau Penyengat merupakan sebuah hadiah dari Sultan Mahmud kepada istrinya Engku Putri Raja Hamidah.

Pemukiman di Pulau Penyengat mulai dibangun pada masa Sultan Mahmud.

Sebelum diberikan sebagai hadiah, Sultan Mahmud sebagai Yang Dipertuan Muda Riau IV membangun beberapa benteng di antaranya adalah Benteng Bukit Kursi untuk melindungi diri dari serangan Belanda. 

Benteng Bukit Kursi di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri)
Benteng Bukit Kursi di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) (DOK. Disbud Kepri)

Pemberian Pulau Penyengat sebagai hadiah menarik perhatian sehingga Yang Dipertuan Muda Jaafar (1806-1832) memindahkan tempat kedudukannya di Ulu Riau (Pulau Bintan) ke Penyengat, sedangkan Sultan Mahmud pindah ke Daik-Lingga. 

Pada tahun 1857, kondisi Kerajaan Melayu Riau-Lingga sudah tidak stabil karena campur tangan Belanda dalam pemerintahan sehingga Sultan Abdulrahman Muazamsyah memindahkan pusat kerajaan Melayu Riau-Lingga dari Daik ke Penyengat pada tahun 1900.

Pemindahan pusat kekuasaan ke Penyengat tentu tidak terlepas dari posisi geografisnya di jalur perdagangan, karenanya, dibutuhkan strategi pertahanan yang cukup kuat untuk menghadapi musuh yang ingin menguasai Pulau Penyengat

Sebagaimana diketahui bahwa pendirian benteng di Pulau Penyengat merupakan salah satu strategi pertahanan yang dibuat oleh Sultan Mahmud. 

Benteng Bukit Kursi merupakan salah satu benteng yang dianggap sebagai sarana pertahanan utama karena menghadap ke tapak dermaga lama maupun tapak dermaga sultan. 

Dermaga merupakan bangunan pelabuhan yang digunakan untuk merapat dan menambatkan kapal yang melakukan bongkar muat barang dan menarik-turunkan penumpang.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved