Ratusan Sekolah di Gunungkidul Kekurangan Murid

Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul, setidaknya ada 425 Sekolah Dasar (SD) yang mengalami kekurangan siswa.

Tayang:
ist
Ilustrasi sekolah dasar 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Kegiatan belajar mengajar pada tahun ajaran baru 2024/2025 telah dimulai sejak Senin (15/7/2024) lalu dengan diawali Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Meski kegiatan belajar mengajar sudah dimulai, sejumlah sekolah di Gunungkidul masih mengalami kekurangan siswa.

Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul, setidaknya ada 425 Sekolah Dasar (SD) yang tidak memenuhi kuota rombongan belajar.

Lalu 61 SMP juga tidak memenuhi kuota rombongan belajar.

Bahkan ada 8 SD dan 13 SMP yang sama sekali tidak ada calon siswa yang mendaftar.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul, Agus Subariyanto mengatakan rata-rata kurangnya murid pada tahun ajaran baru ini terjadi pada SD yang berada di wilayah pinggiran.

Hal itu disebabkan terbatasnya jumlah penduduk sehingga berdampak pada minimnya jumlah siswa. 

“Beberapa wilayah pinggiran itu anak-anaknya biasanya jumlahnya anaknya sedikit," terangnya, Jumat (19/7/2024).

Baca juga: UPDATE Harga Cabai Rawit dan Cabai Keriting di DIY per Jumat 19 Juli 2024 Gunungkidul Paling Mahal

Selain itu, faktor lain yang menyebabkan kondisi ini yakni  mengacu dari statistik yakni jumlah kuota yang disediakan dengan total pendaftar memiliki jarak yang cukup jauh.

"Untuk SD kuota disediakan sebanyak 14.000 siswa, tetapi yang mendaftar hanya 6.860 siswa dan diterima 6.538 siswa. Sedangkan, SMP kuota disediakan 9.596 siswa, yang mendaftar 8.766 siswa dan diterima 6.990 siswa. Dari sini kelihatan memang terjadi gap (jarak) yang cukup tinggi,"urainya.

Sementara itu Kepala Disdik Kabupaten Gunungkidul Nunuk Setyowati menyebut meski beberapa sekolah kekurangan peserta didik, pihaknya belum berencana untuk melakukan re-gouping. 

"Untuk tahun ini belum ada yang akan di-regrouping ini kami lihat dulu,"ujarnya.

Ia menambahkan, pertimbangan belum dilakukan re-gouping karena sejauh ini belum mengganggu pembelajaran secara keseluruhan. 

"Pembelajaran seperti biasa tetap dilakukan,"ucapnya.

Meskipun begitu, Nunuk mengatakan, pihaknya tetap melakukan pemetaan terhadap sekolah-sekolah yang kekurangan murid ini.

"Masih dipetakan nanti dilihat apakah perlu di-regrouping atau tidak,"ucapnya. (*)

 

 

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved