Merawat Warisan Budaya, 4 Naskah Kuno di Gunungkidul Berhasil Dialihmedia dan Bahasa

Naskah kuno tersebut diperoleh dari masyarakat yang ditemukan secara bertahap mulai dari tahun 2022 sampai 2023.

Dok. Istimewa
Contoh naskah kuno yang berhasil didapatkan dari masyarakat Gunungkidul, beberapa waktu lalu 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Sebanyak empat naskah kuno yang didapatkan dari beberapa wilayah di Kabupaten Gunungkidul berhasil dialihmedia dan bahasakan.

Keempat naskah kuno tersebut berhasil didapatkan dari hasil penelusuran yang dilakukan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan bekerjasama dengan Dewan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Kisworo, mengatakan naskah kuno tersebut diperoleh dari masyarakat yang ditemukan secara bertahap mulai dari tahun 2022 sampai 2023.

"Program penelusuran naskah kuno ini bertujuan merawat warisan budaya. Dan, program ini baru berjalan 2022 lalu. Walaupun dananya terbatas tetap kami coba, dan dalam kurun waktu 2 tahun ini berhasil menemukan 4 naskah kuno, dan berhasil dialihmedia dan bahasakan,"ujarnya saat dikonfirmasi pada Kamis (27/6/2024).

Ia berujar, keempat  naskah kuno yang ditemukan memakai bahasa Jawa kuno dan Arab.

Seperti, naskah kuno Suluk Werah I dan Suluk Werah II yang ditemukan di daerah Kapanewon Paliyan pada 2022 lalu.

Baca juga: Sidak Aktivitas Tambang Tak Berizin di Gunungkidul, Ini Kata ESDM DIY

Dua naskah ini bertuliskan bahasa  Jawa kuno yang berusia lebih dari 50 tahun.

"Isi dari naskah Suluk Werah ini tentang wewarah adiluhung seperti sikap budi pekerti dan sebagainya,"jelasnya.

Kemudian untuk dua naskah kuno yang lain ditemukan  di daerah Katongan, Kapanewon Nglipar pada 2023.

Yakni, naskah Serat Menak dan Branjangan.

Kedua naskah ini memakai bahasa Arab yang berisikan tentang tuntunan Islam mulai dari rukun Islam hingga puasa.

"Untuk usianya sama dengan yang ditemukan di Paliyan, sudah di atas 50 tahunan,"ungkapnya.

Menurutnya, naskah kuno di Kabupaten Gunungkidul jumlahnya cukup banyak. Namun, masyarakat masih menyimpannya.

"Dari hasil pemetaan kami sebenarnya peninggalan naskah kuno ini banyak. Namun, memang belum ada akses untuk ke masyarakat. Ada juga yang tidak mau menyerahkan, kalau seperti itu tidak bisa dipaksa. Sifatnya memang sukarela, padahal kami hanya  pinjam untuk  kemudian dialih media kan. Untuk naskah aslinya akan dikembalikan lagi ke masyarakat,"terangnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved