Berita Bantul Hari Ini
DBD di Bantul Terus Bertambah, Capai 130 Kasus pada Caturwulan Awal Tahun 2024
Jumlah kasus DBD di Kabupten Bantul sejak awal Januari sampai akhir April 2024 dinilai setara dengan jumlah kasus DBD sepanjang 2023.
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Kasus Demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Bantul terus bertambah.
Hal itu tercatat di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul .
Kepala Dinkes Bantul , Agus Tri Widiyantara, mengatakan, jumlah kasus DBD di Kabupten Bantul sejak awal Januari sampai akhir April 2024 atau selama caturwulan awal 2024, dinilai setara dengan jumlah kasus DBD sepanjang 2023.
"Kasusnya, kalau dibandingkan dengan tahun kemarin ada peningkatan. Selama 2023 kan ada 130-an kasus DBD. Kalau sekarang, selama empat bulan awal 2024, sudah ada 130-an juga," katanya kepada awak media, di sela-sela tugasnya, Jumat (3/5/2024).
Bersyukurnya, kasus yang tercatat menyerang segala kategori usia tersebut tidak sampai merenggut nyawa masyarakat Bumi Projotamansari.
Sebab, para pasien yang terkena kasus DBD telah mendapatkan penanganan dengan cepat oleh Puskesmas dan instansi terkait.
"Tidak ada yang meninggal dunia. Semuanya dalam diagnosis DBD, semuanya hidup," beber Agus.
Adapun wilayah terbanyak tercatat di Kapanewon Pleret mencapai sejumlah 36 kasus DBD dan kasus terbanyak kedua tercatat di Kapanewon Imogiri mencapai 27 kasus DBD selama caturwulan awal 2024.
Baca juga: TIPS Pahami Gejala DBD pada Anak, Jangan Sepelekan Anak Rewel
"Kasus itu tinggi mungkin karena beberapa hal. Bisa jadi dari sisi kepadatan pemungkiman. Yang jelas karena tempat-tempat perindukan nyamuk ya mungkin cukup tinggi juga di sana, sehingga indikasinya cukup banyak wilayah itu," jelas dia.
Di lain sisi, Agus menyinggung, adanya penambahan kasus DBD di Bantul dapat didorong oleh faktor cuaca.
Di mana, saat ini sedang berlangsung musim pancaroba berupa cuaca dari panas terik ke hujan.
Faktor itu kemudian berengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti.
"Atau mungkin saat ini musim penghujannya cukup tinggi. Kemungkinan ada tempat-tempat genanganan cukup tinggi. Itu juga berengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti dan menjadi alasan kenapa saat ini banyak kasus DBD," urai dia.
Sebagai tindak lanjut, pihaknya berencana melakukan penyelidikan epidemiologi DBD.
Maka dari itu, pihaknya menekankan kepada setiap masyarakat untuk tetap lakukan pemberantasan sarang nyamuk serta meningkatkan pola hidup bersih dan sehat.
"Kalau di tempat tersebut menunjukkan (indikasi) memang perlu dilakukan fogging, ya kami lakukan fogging. Tapi kan kita punya indikasinya, mana yang perlu fogging dan tidak fogging," urai Agus.
Artinya, tak menutup kemungkinan bagi Dinkes Bantul untuk melakukan fogging apabila kasus DBD terus bertambah dalam batas yang tidak normal.( Tribunjogja.com )
| Dinkop UKM DIY dan Iwapi Bantul Gelar Pameran Produk Disabilitas di Stadion Sultan Agung |
|
|---|
| Sejumlah Titik di Bantul Longsor Terdampak Hujan Deras |
|
|---|
| 13 Orang Meninggal Karena Laka Air hingga Pekan Kedua Desember 2024, Ini Pesan Polres Bantul |
|
|---|
| Festival Inspirasi Pendidikan Kabupaten Bantul 2024, Jadi Sarana Peringati PGRI dan HKN |
|
|---|
| Natal dan Tahun Baru, Stok Kebutuhan LPG 3 Kg di Bantul Disebut Aman |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/DBD-di-Bantul-Terus-Bertambah-Capai-130-Kasus-pada-Caturwulan-Awal-Tahun-2024.jpg)