Puisi

KUMPULAN Puisi Menyayat Hati Tema Tentang Hari Buruh 1 Mei

Berikut ini beberapa contoh puisi menyanyat hati tema tentang Hari Buruh 1 Mei 2024

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
freepik
Hari Buruh 

TRIBUNJOGJA.COM - Rabu, 1 Mei 2024 akan diperingati sebagai Hari Buruh.

Ada banyak cara untuk menyambut Hari Buruh secara positif.

Satu diantaranya melalui puisi.

Berikut ini beberapa contoh puisi menyanyat hati tema tentang Hari Buruh:

 

Satu Mimpi Satu Barisan

Karya: Widji Tukul

Di lembang ada kawan Sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upa ya upah

Di Ciroyom ada kawan Sodiyah
si lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik teh
terbaring pucet dihantam tipes
ya dihantam tipes
juga ada Neni
kawn Bariyah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi
dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya : karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang

Di cimahi ada kawan udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang
umpama dironsen pasti nampak
isu dadaku ini pasti rusak
karena amoniak ya amoniak

Di cigugur ada kawan siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam
ya 24 jam

Baca juga: 30 Ucapan Hari Buruh Bahasa Inggris, Happy Labor Day! This is a Day for All the Workers

 

Buruh-buruh

Karya: Widji Tukul

Di batas desa
pagi-pagi
dijemput truk
dihitung seperti pesakitan
diangkut ke pabrik
begitu seterusnya

Mesin terus berputar
pabrik harus bereproduksi
pulang malam
badan loyo
nasi dingin

Bagaimana kalau anak sakit
bagaimana obat
bagaimana dokter
bagaimana rumah sakit
bagaimana uang
bagaimana gaji
bagaimana pabrik? mogok
pecat! mesin tak boleh berhenti
maka mengalirlah tenaga murah
mbak ayu, kakang dari desa

 

Sang Buruh

Pagi ku terlindas waktu

Seperti mentari tak sabar menunggu

Cumbu rayu angin pada ranting kering

Gelayut manja embun pada dedaun

Pagiku menghilang tertelan

Sejak genderang pabrik berdentang

Peluh bercengkerama dengan mesin

Gairah pengusaha tak terelakkan

Memerkosa kemerdekaan si miskin

Adalah kenikmatan yang kau inginkan

Meski aku lelah berjuang

Tanpa tanda jasa tersematkan

Keuntungan bagimu adalah tujuan

Sedang aku hanyalah perabotan

Tak beda dengan monster produksi Jepang

Yang bergerak saat tombol on kau tekan

 

Buruh yang Tangguh

Kau pikul matahari di pundakmu kawan

Lalu kau ke dalam gubukmu

Agar ada sinar menyinari di dalamnya

Dan di luar sana kau masih mengumpulkan sisa makan pagi

Meleset laju memembus fajar

Pejantan belumlah berkokok

Sesajen telah terhidang dari Sang Dewi

Api dendammu membara

Bagai gunung yang murka

Kau banting tulang, demi mengais asa

Asamu yang tertinggal di gubuk itu

Menapaki hari tak berkeluh- kesah

Meski keringat telah bercucuran membentuk pulau-pulau pengharapanmu

Bahkan di dalam kegelapan pun kau masih paksakan tangan dan kakimu untuk bekerja

Tak pernah mengenal lelah

Bahkan di matamu aku dapat melihat harapan yang begitu besar

Sebab dalam gubuk yang kau bawakan matahari, akan tumbuh benih-benih baru yang kau tanam bersama Sang Dewi

Meski setelah itu kau mati

 

Aku Kaum Buruh

Aku..

Hanyalah kaum buruh... kekasih

Apa yang bisa ku banggakan lagi... kecuali kelancanganku menyukai engkau tanpa musabab

Aku..

Hanyalah kuli serabutan... kekasih

 
Apa yang bisa kubincangkan lagi... setelah kulihat sorot matamu

Kau tak mau hidup susah

Sekali lagi

Aku hanyalah buruh... kekasih

Apa yang bisa di banggakan kaum buruh

Kecuali kesetiaanya kepada keluarganya masing-masing. (*)

 

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved