Joko Pinurbo Meninggal

OBITUARI Joko Pinurbo: Enam Dekade Memotret Persoalan Indonesia

Hampir dua tahun lalu, di tahun 2022, sastrawan Joko Pinurbo begitu senang dirinya bisa memasuki usia enam dekade. Kesenangannya itu ia tuangkan menja

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
KOMPAS/Hendra A Setyawan
Penyair Indonesia Joko Pinurbo (Jokpin) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Hampir dua tahun lalu, di tahun 2022, sastrawan Joko Pinurbo begitu senang dirinya bisa memasuki usia enam dekade. Kesenangannya itu ia tuangkan menjadi sebuah buku berjudul ‘Epigram 60’.

Dalam catatan Tribun Jogja, ‘Epigram 60’ diluncurkan di Toko Buku Gramedia Sudirman, Yogyakarta pada 16 Mei 2022, hanya selang lima hari dari ulang tahun pria yang akrab disapa Jokpin itu, pada 11 Mei.

‘Epigram 60’ bukanlah karya biasa. Itu istimewa karena dia menuliskan 60 puisi, menyamakan dengan usianya yang masuk ke kepala enam. Jumlah 60 itu tidak lebih, apalagi kurang.

“Saya bersusah payah, jumlah puisinya 60, kalau lebih ya harus disisihkan, kalau kurang ya ditambah,” ujarnya kala itu.

Jokpin mengusung semangat bergembira melalui kata-katanya, meski deretan puisi yang pernah ia hasilkan justru terasa getir dan pahit.

Di buku itu, ada sebuah puisi berjudul ‘Ibu Kami’. Isinya pun menertawakan godaan untuk menjadi kaya dengan mudah dan cepat. Berikut petikan puisinya diambil dari buku ‘Epigram 60’.

Saban malam ibu kami yang jelata
membersihkan pikiran anak-anaknya
dari godaan kiat sukses dan kaya
dengan mudah, cepat, dan celaka

Jokpin acapkali memotret kehidupan di Yogyakarta, di sisi gelap maupun terang.

Salah satu judul puisi yang ada di ‘Epigram 60’ adalah ‘Guyon Yogya’, menggambarkan peliknya hidup di Yogyakarta dengan upah minimum regional (UMR) yang rendah, tapi harga tanahnya tinggi. Simak kutipannya:

UMR-nya rendah.
Harga tanahnya tinggi.
Harga kangennya lebih tinggi.

Puisi lain yang begitu mengenang di hati masyarakat adalah puisi berjudul ‘Jogja’, tertulis di buku ‘Surat Kopi’ (2014). Di puisi ini, hanya ada satu kalimat. Saking tenarnya ini puisi, ada versi tulisan besarnya di Teras Malioboro 1. Berikut kutipannya:

Jogja terbuat dari rindu,
pulang, dan angkringan

Sayang, sang penyair Joko Pinurbo itu telah tiada. Joko Pinurbo meninggal dunia di Rumah Sakit Panti Rapih, Sabtu (27/4/2024). Ia disemayamkan di Perkumpulan Urusan Kematian Jogja (PUKJ), Jalan PGRI, Sonosewu, Kasihan, Bantul dan dimakamkan Minggu (28/4/2024) di Pemakaman Demangan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman.

‘Epigram 60’ menjadi buku terakhirnya. Kata Jokpin di tahun 2022, buku itu harus segera dimiliki karena dia hanya sekali berulang tahun ke-60.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved