Berita Jogja Hari Ini
Realisasi Luas Panen Padi di DI Yogyakarta Pada April 2024 Menurun
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Hery Sulistio Hermawan mengungkapkan bahwa realisasi luas panen padi sepanjang April 2024
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Hery Sulistio Hermawan mengungkapkan bahwa realisasi luas panen padi sepanjang April 2024 ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama.
Diungkapkannya, realisasi luas panen padi di DIY sepanjang bulan April ini mencapai 35.557 hektare, dari jumlah tersebut 23.903 hektar merupakan lahan panen padi yang berada di Gunungkidul.
Menurunnya realisasi luas panen padi ini menurut Heri disebabkan fenomena El Nino yang menyebabkan mundur 1 Musim Tanam (MT).
Baca juga: Danais Dorong Kemajuan Sektor Pertanian melalui Pengelolaan Tanah Kas Desa
"Iya Gunungkidul paling luas, disusul Kabupaten Sleman 6.383 hektare, Kabupaten Bantul 3.040 hektare, Kabupaten Kulon Progo 2.321 hektare dan Kota Jogja 9 hektare," katanya Rabu (24/4).
Dirinci Hery, pada musim panen bulan ini akan menghasilkan produksi padi sekitar 201.876 ton gabah kering giling (GKG). Dengan rata-rata produktivitas 5,8 ton per hektare.
"Itu belum panen raya. Ini mau merangkak naik panen raya bulan Mei, April-Mei sudah mulai banyak posisi optimal," ujarnya.
Adapun rata-rata petani sudah ada yang memulai tanam di MT 2 sejak Maret sesuai dengan mereka panen di MT 1 ini.
Menurutnya, setelah MT 1 dipanen rata-rata 2-3 minggu kemudian mulai tanam lagi.
Masa panen dalam setahun beragam, ada yang 2 hingga 4 kali panen.
"Kalau memang irigasinya bagus bisa tiga kali ada yang empat kali tapi masih sedikit. Kalau yang lahan tadah hujan biasanya sekali atau dua kali. Jadi kalau jumlah total produksi kita sebetulnya kalau setahun cukup, memang kalau kebutuhan masyarakat flat sekarang," tandasnya. (HAN)
| El Nino Godzilla 2026: BMKG Prediksi Suhu Musim Kemarau Panjang di Yogyakarta |
|
|---|
| Tanggapan Warga Soal Wacana Pembatasan Kendaraan Bermotor di Jeron Beteng Keraton Yogyakarta |
|
|---|
| Hadapi Puncak Musim Penghujan, BPBD Kota Yogyakarta Pantau Sungai 24 Jam |
|
|---|
| Tepati Janji! Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo Copot Seluruh Baliho Bermuatan Wajahnya |
|
|---|
| Mengapa Jembatan Pandansimo Berubah Nama Jadi Jembatan Kabanaran? Ini Sejarahnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-yogyakarta_20180911_145553.jpg)